Selasa, 29 Mei 2012

Pemerolehan Bahasa


BAB I
PENDAHULUAN

Istilah pemerolehan dipakai untuk padanan istilah inggris acquisition, yakni, proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya (native language). Istilah ini dibedakan dari pembelajaran yang merupakan padanan dari istilah inggris learning. Dalam pegertian ini proses itu dilakukan dalam tatanan yang formal, yakni belajar di kelas dan diajar oleh seorang guru. Dengan demikian, proses dari anak yang belajar menguasai bahasa ibunya pemerolehan, sedangkan proses dari orang (umumnya dewasa) yang belajar di kelas adalah pemerolehan.
Memahami ujaran orang lain merupakan unsur pertama yang harus dikuasai manusia dalam berbahasa. Begitu pula manusia hanya memproduksi ujaran apabila dia mengetahui aturan-aturan yang harus diikuti yang diperoleh sejak kecil. Pertanyaannya, mengapa pemerolehan bahasa yang berbeda pada umur dewasa daripada pemerolehan sejak anak masih kecil berkaitan erta dengan struktur serta organisasi otak manusia.
Pada pembahasan kali ini, penulis akan menguraikan langkah-Iangkah yang di­ambil manusia pada waktu memperoleh bahasa ibunya dan me­ngapa langkah-Iangkah itu bersifat universal.


BAB II
PEMEROLEHAN BAHASA

1. Sejarah Kajian Pemerolehan Bahasa
Minat terhadap bagaimana anak memperoleh bahasa sebenarnya sudah lama sekali ada. Konon, raja mesir pada abad 7 sebelum masehi, psammetichus I, menyuruh bawahannya untuk mengisolasi dua orang anaknya untuk mengetahui bahasa apa yang akan dikuasai anak-anak itu. Sebagai raja mesir dia mengharapkan bahasa yang keluar dari anak-anak itu adalah bahasa Arab,meskipun akhirnya dia kecewa.
Ingram (1989) membagi perkembangan studi tentang peme­rolehan bahasa menjadi tiga tahap: periode buku harian, periode sampel besar, dan periode kajian longitudinal.
Periode buku harian adalah dari tahun 1876 sampai tahun 1926. Pada masa ini kajian pemerolehan bahasa anak dilakukan dengan peneliti mencatat apa pun yang diujarkan oleh anak da­lam suatu buku harian. Tulisan H. Taine pada tahun 1876 yang dalam bahasa Inggrisnya berjudul "On the Acquisition of Language by Children" adalah tulisan per­tama mengenai pemerolehan bahasa anak.
Periode sampel besar adalah dari tahun 1926 sampai tahun 1957. Periode ini berkaitan dengan munculnya aliran baru.
Periode kajian longitudinal, menurut Ingram, dimulai de­ngan munculnya buku Chomsky Syntactic Structures (1957) yang merupakan titik awal dari tumbuhnya aliran mentalisme atau nativisme pada ilmu linguistik. Aliran yang berlawanan dengan behaviorisme ini menandaskan adanya bekal kodrati yang dibawa pada waktu anak dilahirkan. Bekal kodrati inilah yang membuat anak di mana pun juga memakai strategi yang sama dalam memperoleh bahasanya.
Clark dan Clark (1977) menyarankan bahwa ada tiga tipe umum pelajaran bahasa untuk anak-anak.
1)            Pelajaran tentang bagaimana melakukan percakapan, tukar pendapat, mengembangkan topik, membuat permintaan dan sebagainya. Pelajaran tersebut dalam bentuk perhatian, direktif dan ketepatan.
2)            Pelajaran tentang makna kata yaitu menyediakan kata-kata ketika kebutuhan anak jelas.
3)            Pelajaran tentang dimana kata-kata dan konstituen lain mulai dan berakhir. Ini dalam bentuk jedah, pengulangan dan bentuk yang familiar untuk kata baru.
Dari segi literatur yang ada, pembagian menjadi tiga tahap oleh Ingram ini rasanya tidak terlalu pas karena banyak kajian yang tidak cocok dengan ciri periode-periode di atas. Karya Leopold yang monumental ditulis tahun 1939 padahal datanya adalah dari buku harian yang menurut Ingram, berakhir pada tahun 1926. dalam kenyataannya, banyak penelitian longiodunal yang subjeknya adalah si keluarga peneliti yang menurut Ingram, harusnya bukan sanak-kandung. Penelitian oleh Weir, Dromi, dan Tomasello di atas adalah penelitian tentang anak mereka masing-masing. Echa. Yang diteliti Dardjowijojo, adalah cucu peneliti.
2. Metode Penelitian dalam Pemerolehan Bahasa
Dengan kemajuan teknologi, data diperoleh dengan merekam ujaran maupun tingkah laku anak saat berujar, baik secara visual maupun auditori. Untuk bahasa Indonesia, Dardjowidjojo telah mengikuti perkembangan cucunya dari lahir sampai umur lima tahun (Dardjowidjojo 2000).
Data rekaman untuk berbagai bahasa di dunia telah dikum­pulkan pada tahun 1985 dalam koleksi yang dikenal dengar nama CHILDES - Child Language Exchange Data System.
Metode yang lain adalah metode wawancara. Metode itu berguna untuk mengecek atau mengecek ulang sesuatu yan ingin diketahui oleh peneliti. Kadang-kadang peneliti terkejl karena anak tidak menjawab apa yang ditanyakan.
Metode ketiga yang dapat dipakai adalah eksperimen. Meto­de ini dipakai kalau peneliti ingin jawaban terhadap suatu ma­salah. Desain penelitian dapat longitudinal atau cross-sectional.
Bahasa sebagai suatu sistem mengisyaratkan adanya kaidah yang mengatur suatu bahasa. Bahasa bersifat dinamis dengan pengertian bahwa bahasa itu berkembang sesuai dengan perkembangan penutur bahasa. Sehingga bahasa dapat pula dilihat sebagai tingkah laku antar personal. Setiap pembicara menampakkan keperibadiannya salah satunya melalui bahasa. Sebagai suatu sistem bahasa menampakkan wujudnya dalam bunyi dan simbol-simbol.
Sebagai suatu tingkah laku antarpersonal, bahasa dapat dilihat melalui komunikasi pada situasi tertentu. Misalnya apabila sesorang bertanya dan lawan bicara menjawab dengan memuaskan ini berarti bahwa komunikasi berhasil baik. Sebaliknya, kalau sesorang memberikan perintah kepada lawan bicara dan lawan bicara diam saja maka komunikasi tidak berhasil. Dengan demikian apabila ingin mengetahui suatu bahasa tertentu, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mendengarkan tuturan penutur bahasa yang bersangkutan. Berdasarkan pandangan psikolinguistik, tuturan dapat dilihat dari tiga tingkatan, yakni a) struktural, b) intensional, dan c) motivasioal (Foos dan Hakes, 1978: 100)

3. Universal Bahasa
Pandangan Chomsky terhadap konsep universal bahasa mengatakan bahwa bila suatu entitas mengandung unsur-unsur hakiki tertentu, maka unsur-unsur itu pasti ada pada entitas itu dimana pun juga. Sebagai contoh, bila paruh merupakan bagian dari hakiki dari seekor ayam, ayam dimana pun juga pasti memiliki paruh itu. Kita tidak harus menyelidiki 1000 ayam untuk mengambil kesimpulan seperti itu.
Dengan landasan seperti ini Chomsky hanya membedakan dua macam universal, yakni universal substantif dan universal formal. Universal substantif berupa unsur atau elemen yang membentuk bahasa. Jadi, nomina, verba, dan adjektiva, misalnya contoh dari universal substantif.
Universal formal berkaitan dengan cara bagaimana universal substantif itu diatur. Pengaturan elemen-elemn ini berbeda dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Karena itulah, mskipun pada dasarnya bahasa itu sama, wujud lahiriahnya berbeda-beda.
Menurut Chomsky (1999: 34), manusia mempunyai facul­ties of the mind, yakni, semacarn "kapling-kapling intelektual" dalarn benakJotaknya. Salah satu kapling itu adalah untuk baha­sa. Kapling kodrati yang dibawa sejak lahir itu oleh Chomsky dinarnakan Language Acquisition Device, LAD, yang telah di­terjemahkan menjadi Piranti Pemerolehan Bahasa, PPB (Dardjowidjojo 2000: 19). PPB menerima masukan dari ling­kungan di sekitarnya dalarn bentuk kalimat yang tidak semu­anya apik (well-formed).

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Pada pembahasan ini akan dijelaskan faktor yang mempengaruhi akuisisi atau pemerolehan bahasa pertama. Faktor – faktor dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu:
a)      Neurological
b)      Psychological
c)      Environmental
Semua proses perkembangan, faktor neorologis dan psikologis mempunyai peranan penting dalam perkembangan bahasa. Organisme manusia didesain dan diprogramkan secara biologis untuk mempelajari bahasa. Mulai sejak lahir, bayi tidak dapat membuat bunyi ujaran tertentu sebab neorologis dan anatomis mereka belum siap memproduksi bahasa. Sejumlah muturasi fisikis harus muncul sebelum bahasa dapat dihasilkan.
Sebagaimana telah dijalaskan bahwa perkembangan mofologi dan makna terdapat dua meknisme dasar psikologi yang bekerja pada pemerolehan atau akuisis bahasa.  Mekanisme tersebut berinteraksi dengan penglihatan sesorang baik dalam proses maupun produksi ujaran. Mekanisme lain dalam perkembangan bahasa adalah integrasi. Hal ini berhubungan dengn perkembangan prase struktur dalam diri anak-anak yang mampu mengembangkan langkah-langkah menuju perkembangan grammer.
Mungkin faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan bahasa adalah bahasa yang digunakan oleh orang dewasa ketika mereka berbicara  kepada anak-anak. Orang dewasa mengggunakan tiga tipe strategi komunikasi Yaitu expansion, modeling dan reduction (Titton & Danise 1985:76)

3.1 Kontroversi antara Nurture dengan Nature
Manusia di manaa pun juga pasti akan dapat menguasai, atau lebih tepatnya memperoleh, bahasa asalkan dia tumbuh dalam suatu masyarakat. Proses pemerolehan ini merupakan suatu hal yang kontroversial di antara ahli bahasa. Mereka memper­masalahkan apakah pemerolehan itu bersifat nurture atau nature. Mereka yang menganut aliran behaviorisme mengata­kan bahwa pemerolehan bahasa itu bersifat nurture, yakni, pemerolehan itu ditentukan oleh alam lingkungan. Menurut aliran ini, manusia dilahirkan dengan suatu tabula rasa, yakni, semacam piring kosong tanpa apa pun.
Pada tahun 1959, Chomsky menulis resensi yang secara tajam menyerang teori Sknner. Pada dasarnya, comsky berpandangan bahwa pemerolehan bahasa itu bukan didasrkan pada nurture tetapi nature. Anak memperoleh kemampuan untuk berbahasa seperti dia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan. Anak tidak dilahirkan sebagai piring kosong, tabula rasa, tetapi dia telah dibekali dengan sebuah alat yang dinamakan piranti pemerolehan bahasa. Piranti ini bersifat universal, artinya anak mana pun memliki piranti ini. Ini terbukti adanya kesamaan antara satu anak dengan anak yang lain dalam proses pemerolehan bahasa mereka. Nurture, akni, masukan yang berupa bahasa hanya akan menentukan bahasa mana yang akan diperoleh anak, tetapi prosesnya itu bersifat kodrati (innate) dan inner-directed.
Baik nature maupun nurture diperlukan untuk pemerolehan bahasa. Nature diperlu­kan karena tanpa bekal kodrati makhluk tidak mungkin dapat berbahasa. Nurture juga diperlukan karena tanpa adanya input dari alam sekitar bekal yang kodrati itu tidak akan terwujud.
4. Universal dalam Pemerolehan Bahasa
Dari berbagai macam universal serta proses pemerolehan baha­sa seperti digambarkan di atas tampak bahwa pemerolehan ba­hasa seorang anak berkaitan erat dengan konsep universal. Sejauh mana konsep universal itu mempengaruhi pemerolehan kelihatannya tergantung pada sifat kodrati komponen bahasa.


4.1 Universal pada Komponen Fonologi
Dalam masalah kaitan antara konsep univeral dengan pemero­lehan fonologi, ahli yang pandangannya sampai kini belum disanggah orang adalah Roman Jakobson. Dialah yang menge­mukakan adanya universal pada bunyi bahasa manusia dan urutan pemerolehan bunyi-bunyi tersebut. Menurut dia, pemero­lehan bunyi berjalan selaras dengan kodrat bunyi itu sendiri. Bunyi pertama yang keluar waktu anak mulai berbicara adalah kontras antara konsonan dan vokal. Dalam hal vokal, hanya bunyi la!, Iii, dan Iul yang akan keluar duluan. Dari tiga bunyi ini, Ia! akan keluar lebih dahulu daripada Iii atau Iul. Mengapa demikian? Sebabnya adalah bahwa ketiga bunyi ini membentuk apa yang dia namakan Sistem Vokal Minimal (Minimal Vocalic System): bahasa mana pun di dunia pasti memiliki minimal tiga vokal ini (Jakob son 1971: 8-20). Dari tiga bunyi ini bunyi Ia!­lah yang paling mudah diucapkan.
4.1 Universal pada Komponen Fonologi
Mengenai konsonan Jakobson mengatakan bahwa kontras pertama yang muncul adalah oposisi antara bunyi oral dengan bunyi nasal (/p-bl dan Im-n/) dan kemudian disusul oleh kontras antara bilabial dengan dental (/pl - It/). Sistem kontras ini dina­makan Sistem Konsonantal Minimal (Minimal Consonantal System). Ada pula urutan universal yang umumnya diikuti anak. Prinsip yang dinamakan sini dan kini (here and now) tampaknya universal. Artinya, di mana pun juga kosakata yang dikuasai anak pertama-tama adalah kosakata dari objek yang ada di sekelilingnya (=sini) dan yang saat itu ada (=kini). Anak belum bisa membayangkan benda yang tidak ada, atau peristiwa yang sudah atau belum terjadi.
5. Rerata Panjang Ujaran
Untuk mengukur perkembangan sintaksis anak, banyak dipakai temuan Brown (1973) yang dikenal dengan nama Mean Length of Utterance, MLU, yang telah diterjemahkan menjadi Rerata Panjang Ujaran, RPU (Dardjowidjojo 2000: 40). Cara meng­hitung panjang ujaran anak adalah: (a) ambil sampel sebanyak 100 ujaran, (b) hitung jumlah morfemnya, dan (e) bagilah jumlah morfem itu dengan jumlah ujaran. Jadi, seandainya ada 253 morfem, maka RPU adalah 253 : 100 = 2.5.
Oleh Brown RPU ini dipakai untuk menentukan tahap pe­merolehan: Tahap I = RPU antara 1.0 - 2.0, sekitar umur 12-26 bulan; Tahap II = RPU antara 2.0-2.5, sekitar umur 27-30 bulan.
6.  Bahasa Ibu Versus Bahasa Sang Ibu
Untuk menghindari kesalah-fahaman, perlu dibedakan istilah bahasa ibu dari bahasa sang ibu. Bahasa ibu adalah bahasa per­tama yang dikuasai atau diperoleh anak. Bahasa ibu adalah padanan untuk istilah Inggris native language.sedangkan. Bahasa sang ibu adalah bahasa yang dipakai oleh orang de­wasa pada waktu berbicara dengan anak yang sedang dalam proses memperoleh bahasa ibunya.
Bahasa sang ibu mempunyai ciri-ciri khusus: (a) kalimatnya umumnya pendek-pendek, (b) nada suaranya biasanya tinggi, (c) intonasinya agak berlebihan, (d) laju ujaran agak lambat, (e) banyak redundansi (pengulangan), dan (f) banyak memakai kata sapaan (Moskowitz 1981; Pine 1994: 15; Barton dan Toma­sello 1994: 109).
Menurut Chomsky, bahasa sang ibu itu ”amburadul” (degenerate), artinya, bahasa yang kita pakai tidak selamanya apik. Akan tetapi, dari input yang tidak apik ini anak dapat menyaringnya menjadi sistem yang apik. Kualitas input ini menjadi bahan yang kontroversial. Orang-orang gleitman (1977) dan snow (1997) menemukan dalam penelitian mereka bahwa bahasa sang ibu itu ternyata tidak sejelek seperti yang dinyatakan chomsky-bahkan lebih banyak baiknya daripada amburadulnya!
7. Komprehensi dan Produksi
            Manusia, baik anak maupun dewasa, mempunyai dua tingkat kemampuan yang berbeda dalam berbahasa. Sebagai orang dewasa, kita menyadari jumlah kosakat yang kita pakai secara aktif lebih rendah daripada kata-kata yang dapat kita mengerti. Begitu juga anak: di mana pun juga kemampuan anak untuk memahami apa yang dikatakan orang jauh lebih cepat dan jauh lebih baik daripada produksinya. Sebagian peneliti mengatakan bahwa kemampuan anak dalam komprehensi ada­lah lima kali lipat dibandingkan dengan produksinya (Benedict 1979 dalam Fletcher dan Garman 1981: 6). Sementara itu, Fenson dkk (dalam Barret 1995: 363) mengatakan bahwa pada saat anak dapat memproduksi 10 kata, komprehensinya adalah 110 kata; jadi, 11 kali lipat daripada produksinya. Ketidak seimbangan antara komprehensi dengan produksi ini tampak pada perilaku bahasa sehari-hari si anak.


8. Proses Pemerolehan Bahasa
Pada umur sekitar 6 minggu, anak mulai mengeluarkan bunyi-bunyi yang mirip dengan bunyi konsonan atau vokal. Bunyi-bunyi ini belum dapat dipastikan bentuknya karena me­mang belum terdengar dengan jelas. Proses mengeluarkan bunyi-bunyi seperti ini dinamakan cooing, yang telah diterje­mahkan menjadi dekutan (Dardjowidjojo 2000: 63). Anak men­dekutkan bermacam-macam bunyi yang belum jelas identi­tasnya.
8.2 Pemerolehan dalam Bidang Sintaksis
Dalam bidang sintaksis, anak memulai berbahasa dengan me­ngucapkan satu kata (atau bagian kata). Kata ini, bagi anak, sebenamya adalah kalimat penuh, tetapi karena dia belum dapat mengatakan lebih dari satu kata, dia hanya mengambil satu kata dari seluruh kalimat itu.
Bahwa dalam ujaran yang dinamakan Ujaran Satu Kata, USK, (one word utterance) anak tidak sembarangan saja memilih kata itu; dia akan memilih kata yang memberikan informasi barn.
8.2.1 Bentuk Tatabahasa pada Anak
Pada tahun 1963 Martin Braine, Universitas California di Santa Barbara, mendapati dalam penelitiannya bahwa urutan dua kata yang dipakai anak ternyata mengikuti aturan tertentu. Kata-kata tertentu selalu berada pada tempat tertentu pula dan ada kata­kata yang tidak pernah muncul sendirian.
Tatabahasa seperti ini kini dikenal dengan nama Pivot Grammar. Dengan tatabahasa seperti ini anak akan mengucap­kan kalimat seperti (5) atau (6).
Bahwa anak mengikuti pola universal juga tampak pada aspek-aspek gramatikal yang lain. Brown, misalnya, menemu­kan bahwa pemerolehan 14 morfem bahasa Inggris mengikuti urutan tertentu.
8.3 Pemerolehan pada Bidang Leksikon
Sebelum anak dapat mengucapkan kata, dia memakai cara lain untuk berkomunikasi: dia memakai tangis dan gestur (gesture, gerakan tangan, kaki, mata, mulut, dsb). Pada awal hidupnya anak memakai pula gestur seperti senyum dan juluran tangan untuk meminta sesuatu. Dengan cara-cara seperti ini anak sebenamya memakai "kalimat" yang protodeklaratif dan protoimperatif (Gleason dan Ratner 1998: 358).
Pada kasus Echa, anak indonesia mulai memakai bentuk yang dapat dinamakan kata agak belakangan. Echa baru mengeluarkan bunyi yang dapat dikenal sebagai kata pada sekitar umur 1:5. penentuan ini berlandaskan pada pandangan Dromi (1987:15) yang mengatakan bahwa untuk suatu bentuk dapat dianggap telah dikuasai anak, maka bentuk itu harus memiliki a) kemiripan fonetik dengan bentuk kata orang dewasa, dan b) korelasi yang ajeg antara bentuk dengan referen atau maknanya.  
8.3.1 Macam Kata yang Dikuasai Anak
Macam kata yang dikuasai anak mengikuti prinsip sini dan kini. Dengan demikian kata-kata apa yang akan diperoleh anak pada awal ujarannya ditentukan oleh lingkungannya.
Dari macam kata yang ada, yakni, kata utama dan kata fungsi, anak menguasai kata utama lebih dahulu. Karena utama ada paling tidak tiga, yakni, nomina, verba, Ahli seperti Bloom (1975 dan 1993) dan Tardif (1995) menya­takan bahwa anak menguasai verba lebih awal dan lebih banyak daripada nomina. Sebaliknya, ahli seperti Gentner (1982) ber­pandangan lain, yakni, anak menguasai nomina lebih dahulu dan jumlahnya pun paling banyak.
8.3.2 Cara Anak Menentukan Makna
Cara anak menentukan makna suatu kata bukanlah hal yang mudah. Dari masukan yang ada, anak harus menganalisis segala macam fiturnya sehingga makna yang diperolehnya itu akhirnya sama dengan makna yang dipakai oleh orang dewasa.
Dalam hal penentuan makna suata kata, anak mengikuti prinsip-prinsip universal, salah satu di antaranya adalah yang dinamakan overextension yang telah diterjemahkan menjadi penggelembungan makna (Dardjowidjojo 2000). Diperkenal­kan dengan suatu konsep bam, anak eenderung untuk mengarn­bil salah satu fitur dari konsep itu, lalu menerapkannya pada konsep lain yang memiliki fitur tersebut. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa penggelembungan dapat berdasarkan bentuk, ukuran, gerakan, bunyi, dan tekstur (texture).

8.3.3 Cara Anak Menguasai Makna Kata
Anak tidak menguasai makna kata secara sembarangan. Ada strategi-strategi tertentu yang diikuti (Golinkoff dkk 1994 dalam Gleason dan Ratner 1998: 361). Anak memakai, misalnya, stra­tegi referensi dengan menganggap bahwa kata pastilah merujuk pada benda, perbuatan, proses, atau atribut. Dengan strategi ini anak yang baru mendengar suatu kata baru akan menempelkan makna kata itu pada salah satu dari referensi tersebut.
Strategi lain adalah strategi cakupan objek (object sope). Pada strategi ini kata yang merujuk pada objek itu secara keseluruhan, tidak hanya sebagian dari objek itu.
Strategi ketiga adalah strategi peluasan (extendability). Strategi ini mengasumsikan bahwa kata tidak hanya merujuk pada objek aslinya saja tetapi juga pada objek-objek lain dalam kelompok yang sama itu.
 Strategi keempat adalah eakupan kategorial (categorical scope). Strategi ini menyatakan bahwa katadapat diperluas pemakaiannya untuk objek-objek yang termasuk dalam kategori dasar yang sama.
Strategi kelima adalah strategi "nama-baru - kategori tak­bemama" (novel name-nameless category). Anak yang mendengar kata dan setelah dicari dalam leksikon mental dia ternyata  kata itu tidak ada rujukannya, maka kata itu akan dianggap kata baru danmaknanya ditempelkan pada objek, perbuatan, atau atribut yang dirujuk oleh kata itu.
Strategi keenam adalah strategi konvensionalitas (conven­tionality). Anak berasumsi bahwa pembicaraa memakai kata-kata yangtidak terlalu umum tetapi juga tidak terlalu khusus.
Dalam penguasaan makna kata anak menghadapi banyak kendala karena kata memiliki derajat kesukaran yang berbeda-beda. Pada umumnya kata-kata yang kongkrit lebih mudah daripada yang abstark dan karenya lebih mudah serta lebih dapat dipercaya.
8.4 Pemerolehan dalam Bidang Pragmatik
Karena pragmatik merupakan bagian dari perilaku berba­hasa maka penelitian mengenai pemerolehan bahasa perlu pula mengamati bagaimana anak mengembangkan kemampuan prag­matiknya. Nino dan Snow (1996: 11) menyarankan agar kita mengamati (a) pemerolehan niat komunikatif (communicative intents) dan pengembangan ungkapan bahasanya, (b) pengem­bangan kemampuan untuk bercakap-cakap dengan segala urut­annya, dan (c) pengembangan piranti untuk membentuk wacana yang kohesif.
8.4.1 Pemerolehan Niat Komunikatif
            Dari minggu-minggu pertama sesudah lahir, anak mulai menunjukkan niat komunikatfnya dengan antar lain tersenyum, menoleh bila dipanggil, menggpai bila diberi sesuatu, memberikan sesuatu kepada orang lain. Semua ini ditemukan pada saat pra vokalisasi dansering dirujuk dengan istilah protodeklaratif dan proto imperatif (ninio dan Snow, 1996: 47). Setelah perkembangan biologisnyamemungkinkan anak mulai mewujudkan niat komunikatifnya dalam bentuk bunyi. Dari penelitian nino dan snow didapati bahwa arah ujaran-ujaran awal adalah ke diri anak, artinya semua ujaran yang dikeluarkan diarahkan untuk kepentingan diri sendiri, bukan untuk orang lain. Karena itulah, pada awal hidupnya anak kelihatan egois dan egonsentris.
8.4.2 Pemerolehan Kemampuan Percakapan
            Mengenai kempuan percakapan, anak juga secara bertahap menguasai aturan-aturan yang lain. Seperti dinyatakan sebelumnya, percakapn mempunyai struktur yang terdiri dari tiga komponen (1) pembukaan, (20 giliran, (3) penutup. Secara naluri anak akan tahu kapan pembukaan percakapanm itu terjadi.
            Dari penelitian Pan dan Snow (1999:233) didapati bahwa pada umur 1,8 anak hanya menanggapi sekitar 33% dari apa yang ditanyakan oleh oangtuanya. Presentase ini naik menjadi 56,7% pada umur 2,5 – 3,00. begitu pula relevansinya, hanya sekitar 19% dari tanggapan anak yang relevan dengan topik yang sedang dibicarakan (owens, 1996:275).
8.5 Pengembangan Piranti Wacana
Pada anak wacana umumnya berbentuk percakapan antara anak dengan orang dewasa atau dengan anak lain. Percakapan seperti ini dapat berjalan cukup lancar karena interlokutor anak adalah orang-orang dekat yang umumnya memberikan dukungan kalimat-kalimat penyambung (Habis itu, ke mana si Kanci/ pergi?, dsb), dan yang dibicarakan adalah hal-hal yang dikenal anak
8.6 Waktu Pemerolehan Bahasa Dimulai
Melalui saluran intrauterine anak telah terekspos pada bahasa manusia waktu dia masih janin (Kent dan Miolo 1996: 304). Kata-kata dari ibunya tiap hari dia dengar dan secara biologis kata-kata itu "masuk" ke janin. Kata-kata ibunya ini rupanya "tertanam" pa­da janin anak. Itulah salah satu sebabnya mengapa di mana pun juga anak selalu lebih dekat pada ibunya daripada ayahnya. Seorang anak yang menangis akan berhenti menangisnya bila digendong oleh ibunya.
Dengan memkai alat yang dinamakan High amplitude Sucking Paradigm (HASP) anak umur di bawah umur 3 bulan ternyata sudah dapat membedakan VOT. Pada eksperimen ini akan diberi dot khusus lalu diperdengarkan bunyi, misalnya, /ba/. Pada saat mendengar bunyi itu, jumlah denyutan naik, tapi kemudian menurun. Kemudian diberikan bunyi lain /pa/, dan denyutannya naik lagi. Dari ini disimpulkan bahwa anak telah dapat membedakan bunyi sangat awal.


BAB III
KESIMPULAN

Psikolinguistik adalah suatu bidang ilmu yang membahas hubungan bahasa dengan dengan otak dalam memores dan menghasilkan ujaran dan dalam pemerolehan bahasa. Hal ini berarti bahwa psikolinguistik menekankan tentang bagaimana sesorang memores dan menghasilkan ujaran dan pemerolehan bahasa itu berlangsung.
Pada umumnya anak memperoleh kecakapan berbahasa melalui bunyi-bunyi bahasa yang ia dengar di sekelilingnya tanpa disengaja atau diperintah. Kecakapan berbahasa berkembang secara terus menerus sesuai dengan perkembangan intelegensi dan latar belakang sosial-budaya yang membentuknya.
Ada tiga masalah dalam pemerolehan bahasa, yaitu masalah kesinambungan, masalah pembawaan lahir dalam bahasa, dan masalah pemahaman dan produksi.

4 komentar:

komantarnya bossss