Selasa, 29 Mei 2012

Memori dan Bahasa


BAB I
PENDAHULUAN

Memori merupakan bagian integral dari eksistensi manusia. Kita tidak dapat membayangkan seperti apa manusia itu bila kita tidak dapat mengingat masa lalu, tidak dapat menyimpan masukan yang baru saja kita dengar, dan tidak dapat mengingat apa yang akan kita lakukan besok. Sebagian besar dari apa yang kita ketahui tentang dunia ini bukan berasal dari saat kita lahir tetapi kita peroleh melalui pengalaman yang kita simpan dalam memori kita.
Ada beberapa alasan mengapa guru-guru dari semua mata pelajaran tertarik dengan masalah memori (menghafal) dan lupa. Murid-murid nampaknya membutuhkan sejumlah atau berbagai latihan-latihan untuk beberapa hal sebelum ia mengingatnya. Memori berarti hal-hal yang berhubungan dengan manusia. Psikologis menyatakan bahwa hal itu merupakan wilayah atau bagian dari penelitian yang berhubungan dengan mekanisme pengolahan informasi selama beberapa detik. Melalui suatu organisasi penyimpanan pengetahuan tentang dunia mereka sendiri, bahasanya dan orang lain. Untuk membahas penyimpanan ini beserta dengan prosesnya terdapat adanya cacat mental atau yang biasa disebut amnesia (hilang ingatan) dan apasia (tidak bisa bicara).
Secara khusus pembahasan tentang memori dalam hubungannya dengan eksposure dan pengulangan istilah-istilah akan mengundang kembali klaim behavioris tentang tanggapan dan pembahasan internal organisasi, kategorisasi subyektif. Dan tanggapan miring akan menghilangkan atau mengkaburkan pendekatan proses informasi. Suatu kajian tentang memori dan lupa telah dipromosikan melalui teori proses informasi dan model-model memori komputer.


BAB II
PEMBAHASAN
MEMORI DAN BAHASA

1. Sekilas Tentang Kajian Memori
Menjelang pertengahan abad ke 19 psikolog eksperimental yang dipelopori oleh ahli psikologi Jerman Herman Ebbinghaus (1850-1909). Dialah yang pertama-tama berhasil membawa studi tentang memori ke laboratorium (Squire dan Kandel 1999: 3-4) untuk dipelajari secara objektif dan kuantitatif. Dari penelitiannya muncul ada­nya dua macam memori: memori yang hidup singkat dan me­mori yang hidup lama. Dia dapati pula bahwa pengulangan membuat memori lebih panjang.
Psikolog Amerika William James tahun 1890-an kemudian mengembangkannya lebih lanjut dengan lebih menajamkan per­bedaan antara memori jangka pendek (disingkat: memori pen­dek, short-term memory) dengan memori jangka panjang ( me­mori panjang, long-term memory)
Pada awal abad ke 20 psikolog Rusia Ivan Pavlov menga­jukan teorinya yang kemudian dikenal sebagai classical condi­tioning sementara Edward Thorndike dari Amerika mengaju­kan operant, atau experimental, conditioning yang kemudian lebih dikenal sebagai trial-and-error learning.
2. Di Mana Memori Disimpan?
Bahwa memori tidak terletak pada satu tempat di otak juga dikemukakan oleh ahli-ahli lain. Dengan memakai alat PET Tulving dan Lepage (2000) menunjukkan bahwa memori me­mang tidak berada di suatu tempat khusus di otak. Penemuan baru yang menarik dari penelitian yang dilakukan oleh Kapur dkk (1996) dan Cabeza dkk (1997) adalah bahwa penyimpanan memori dan retrival memori tidak berada pada tempat yang sarna. Mereka dapati bahwa penyimpanan memori dilakukan oleh hemisfir kiri, khususnya di korteks prafrontal, korteks cingulate anterior, dan girus parahippocampal. Sementara itu, retrival memori dilakukan oleh hemisfir kanan pada tiga daerah yang sarna ini. Pola ini kemudian dikenal dengan nama HERA ­Hesmispheric EncodingIRetrival Asymmetry.

3. Macam-Macam Memori
Psikolog seperti William James (1841-1910) membagi me­mori menjadi dua kelompok besar: memori pendek dan memori panjang. Memoripendek dibagi lagi menjadi dua sub-bagian: memori sejenak (immediate memory) dan memori kerja (working memory).
Sementara itu, Tuvling dan Lepage (2000) membagi me­mori menjadi dua kelompok besar: memori proskopik ( disebut juga sebagai memori non-episodik) dan memori palinskopik (atau memori episodik). Pada memori proskopik pengalaman pada suatu waktu dimanfaatkan untuk menangani kasus di masa depan.

3.1 Perbedaan Waktu
Apabila kita mampu memanggil kembali informasi untuk penggunaan yang secara tiba-tiba, tetapi apabila informasi tersebut telah lama, maka akan mengalami kesulitan dalam memanggil kembali. Misalnya apabila anda melihat nomor telepon, anda tidak langsung mengetahuinya dan sulit untuk menggunakannya, tetapi anda harus melihatnya berulang-ulang.

3.2 Perbedaan Proses
Chungking (potongan) telah diketahui sejak beberapa abad terakhir, bahwa kapasitas memori itu terbatas tetapi tetap dinyatakan bahwa signifikasi batasan ini telah dikenal. G.A. Miller (1956) menunjukkan bahwa batasan itu hampir terdiri atas 7 bagian.
Memori kerja: Sebelum melihat beberapa proses yang mempengaruhi memori jangka panjang, maka harus dibuat konsep kerja memori atau memori proses wicara, seperti telah dibahasa pada bab berikutnya.
Frekuensi: Memori jangka panjang pertama kali dikaji pada suatu skala eksperimental oleh Ebbinghaus, dalam Uber Das Gedachtuis (1885) menyatakan suatu seni panjang eksperimen tentang pembelajaran bermakna
Kelompok Asosiatif: Pengaruh pengetahuan dasar dalam memori jangka panjang sangat mudah dikembalikan dan diingat kembali seperti yang digunakan oleh Bousfield (1953). Dia menunjukkan bahwa subyek dapat memanggil kembali lebih banyak dari pada memori klasik.
Code: Memanggil kembali dipengaruhi oleh kejadian atau proses pada berbagai tingkatan memori. Ketiga tingkatan itu dapat dibedakan, intake, storage dan retrieval (masukan, penyimpanan dan pencarian).
Skemata: Sebagaimana telah disebutkan tipe dan pengaruh subyektif organisasi. Bagaimanapun, kemungkinan banyak demonstrasi yang berhubungan memori tentang pesan-pesan jangka panjang yang berhubungan dengan kenyataan atau atau fiksi, seperti cerita, laporan dan cerita. Kajian ini mengenai tipe memori yang dipimpin oleh Barlett untuk menolak penjelasan memori frekuensi.
3.3 Perbedaan Tipe Materi
Suatu perbedaan yang penting seperti yang telah digambarkan oleh Tuvlin (1972) antara episodik dan memori semantik. Secara esensial, memori episodik berhubungan dengan informasi yang tersimpan yang dikode dengan kronologi, detail biografis, urutan kejadian, apa yang X katakan ketika dia meminum kopinya, daftar janji selam sehari dan sebagainya. Tuvlin juga menunjukkan bahwa sejumlah pengalaman atas memori verbal yang juga masuk dalam katergori ini, khususnya ketika menangani kemunculan kata secara khusus pada susunan tertentu dalam daftar.
4. Pembentukan dan Pemakaian Memori
Memori dibentuk dan dipakai melalui tiga tahap: input, penyim­panan, dan output (Clark dan Clark 1977: 134-136; Engel 1999: 5). Pada tahap input, orang umumnya menerima masukan, baik lisan maupun tulisan, kemudian memberikan interpretasi ten­tang masukan itu untuk memahaminya. Biasanya orang mem­perhatikan maknanya, bukan kata-katanya. Karena itu, yang disimpan dalam memori bukan kata-kata yang didengar atau dibaca tetapi isi dari keselumhan kata-kata itu.
Pada tahap output, ada dua cara yang dipakai: rekognisi (recognition) dan rekol (recall). Rekognisi adalah proses pe­manggilan memori dengan meminta seseorang untuk dapat merekognisi sesuatu yang telah diberikan kepadanya sebelum­nya.
5. Memori dan Hafalan
Hafalan adalah juga memori tetapi prosesnya berbeda. Memori bisa terbentuk tanpa kita mengadakan suatu usaha khusus untuk memperolehnya Seba­liknya, hafalan hanya akan dapat menjadi memori dengan suatu usaha atau tindakan yang khusus.
Kesimpulan bahwa kita seharusnya melihat bagaimana gambaran memori ini untuk bahasa menyampaikan beberapa masalah spesifik pengajaran bahasa.
Teknik hafalan telah menjadi teknik favorit selama beberapa tahun, tidak ada kemajuan pada tahap awal pembelajaran bahasa asing. Kemampuan menampilkan metode “Chunk” dalam bahasa asing yang mempelajari keuntungan motivasional.

6. Proposisi dalam Memori
Yang disimpan dalam memori bukanlah kata tetapi makna. Begitu makna suatu ujaran kita tangkap, kata-katanya sudah tidak kita perlukan lagi. Hanya makna, atau proposisilah, yang kita simpan. George Miller (1962) mengajukan teori yang kemudian dikenal dengan nama Theory of Derivational Complexity, TDC. Menurut teori ini mudah tidaknya makna suatu kalimat difahami ditentukan oleh jumlah derivasi yang dilalui oleh kalimat itu.

7. Pikiran dan Bahasa
Hubungan antara pikiran dan bahasa adalah satu permasalahan yang mendasar atau hakiki dalam psikolinguistik. Kita perlu mempertanyakan: (1) lainkah bahasa dari pemikiran? apakah keduanya merupakan hal yang sama ?, (2) kalau dua hal itu berbeda, adakah hubungan diantaranya?, (3) kalau ada hubungannya, manakah yang utama?.
Untuk mendapatkan gambaran tentang pernyataan tersebut diatas, berikut ini kita mencermati pendapat para ahli psikolinguis bahwa bahasa dan pikiran (1) adalah dua hal yang berbeda, (2) amat erat hubungannya, (3) dapat dianggap sebagai dua macam penampilan dari hal atau kegiatan yang sama atau dengan kiasan dua sisi dari dua mata uang yang sama, (4) tidak sama nilainya, sebab bahasalah yang utama, dalam arti kita tidak punya bahasa, dan bahwa kita dapat melihat atau mendengar orang berbahasa tanpa kita tahu bahwa dia befikir. Oleh karena keempat pendapat itulah maka kita mengikuti kelompok yang menyebut manusia sebagai homo loguens.
Psikolog kemudian melakukan eksperimen untuk mengeta­hui lebih lanjut masalah ini. Piaget (1924/55), misalnya, mene­liti anak-anak untuk melihat bagaimana bahasa terkait dengan pikiran. Menurut dia ada dua macam modus pikiran: pikiran ter­arah (directed) atau pikiran inteligen (intelligent) dan pikiran tak-terarah atau pikiran autistik (autistic)
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa pada saat anak tum­buh, berpikir yang terujarkan menjadi makin kecil dan setelah dewasa berpikir tidak lagi dilakukan dengan memakai kata yang terujarkan. Jarak yang makin jauh antara inner speech dengan bunyi fonetik yang dipakai untuk mewakilinya mempercepat proses berpikir.
Bahasa adalah suatu sistem penanda lembaga masyarakat yang berkembang secara terus menerus dan memiliki karakteristik tersendiri yang tidak dibatasi tempat dan waktu. Karakteristik itu memberikan peluang bagi pemakai bahasa untuk membicarakan berbagai hal dan peristiwa yang tidak ada atau tidak terjadi pada saat sekarang ini.
Dengan demikian bahasa itu tidak statis. Ujaran-ujaran baru dalam suatu bahasa selalu diciptakan. Misalnya, seorang anak yang belajar berbahasa memiliki sifat aktif dalam membentuk dan menghasilkan ujaran-ujaran yang belum pernah di dengar sebelumnya. Hal ini merupakan suatu aspek bahasa yang dihubungkan dengan kenyataan bahwa jumlah potensi ujaran dalam bahasa manusia tidak terbatas. Tidak heran jika ada yang mengatakan bahwa bahasa sebagai perekat masyarakat dan bahasa sebagai faktor penentu dalam kehidupan masyarakat.
Bahasa, fikiran, dan komunikasi merupakan tiga permasalahan yang selalu terkait. Pikiran berpengaruh terhadap bahasa, bahasa berpengaruh terhadap pikiran, serta pikiran dan bahasa memegang peranan dalam komunikasi. Telah diketahui bawa danya pikiran dan bahasa menjadikan manusia sebagai makhluk yang bermasyarakat, berbudaya dalam lingkungan sosial. Dengan kata lain, suatu kemasyarakatan dapat tercipta karena adanya peran yang dimainkan oleh bahasa dan pikiran secara timbal balik.
Berkomunikasi pada hakekatnya adalah berbahasa, tetapi pemahaman kita tentang bahasa dan peranannya dianggap hal yang biasa. Komunikasi yang menjadi dasar kesuksesan dan kemajuan manusia kesemuanya itu ditunjang oleh bahasa. Di bawah ini akan dibahas tentang keuniversalan dan korelatifan bahasa serta kategori perseptual.

7. 1 Universal versus Relativitas
Pandangan atau hipotese yang mengatakan bahwa bahasa mem­pengaruhi cara berfikir penutumya dirujuk dengan nama hipo­tese relativitas linguistik. Boas memberikan tiga argumen untuk mendukung hipotese ini. Pertama, bahasa mengklasifikasi pengalaman. Kedua, bahasa yang berbeda-beda mengklasifikan penga­laman dengan cara yang berbeda-beda pula. Ketiga, fenomina linguistik itu umumnya bersifat taksadar (unconscious).
Dalam bagian ini dibahas satu pemikiran tentang pengaruh bahasa pada pikiran sseorang yang merupakan suatu hipotesis pemikiran itu disebut hipotesis relativitas kebahasaan ( linguistic relativity hyphothesis ).


Hipotesis Relativity Kebahasaan
Suatu topik yang sudah lama menyebutkan ahli yang mengkaji bahasa dan pikiran dan khususnya pengaruh bahasa atas pikiran. Dibagian terdahulu telah dibicarakan pengaruh pikiran pada bahasa artinya perbedan dalam bentuk bahasa itu akan diterangkan persepsi dengan pikiran penutur. Hipotesis yang mengkaji tentang hubungan pikiran dengan bahasa adalah hipotesis relativitas kebahasaan dari Sapir dan Whorf.
Hipotesis ini menunjukkan bahwa “ bahasa mempengaruhi pikiran “. menurut Whorf, setiap bahasa memaksa atau memberikan suatu pandangan dunia pada penuturnya. Ia mengatakan bahwa “ manusia membagi-bagi alam dan menyusunnya menjadi konsep-konsep, dan menilai kepentingan dengan cara yang sebahagian besar disebabkan karena manusia telah sepakat untuk menyusun alam itu demikian adanya. Kesepakatan yang berlaku bagi masyarakat bahasan yang telah dibukukan dalam pola-pola bahasa ”. Whorf mendasarkan pandangannya pada perbandingan bahasa-bahasa utama di eropa dengan bahasa-bahasa indian amerika. Menurut dia pandangan dunia dipaksakan bahasa-bahasa Indian Amerika pada penuturnya berbeda dari pandangan dunia yang dipaksakan bahasa-bahasa eropa pada penuturnya.

Pembedaan Kosakata
Salah satu bukti bahwa bahasa mempengaruhi pikiran yang dikemukakan sapir dan whorf ialah bahwa : Dalam satu bahasa terapat lebih banyak kata dalam sesuatu ranah daripada bahasa lain. Umpamanya dalam bahasa Indonesia ada tiga kata untuk rice yakni : padi, beras, dan nasi, boas (1911), memberikan contoh dari bahasa Eskimo yang memiliki empat kata atau kata snow (salju), sedangkan bahasa Indonesia mempunyai satu. Perbedaan ini, menurut versi lemah ialah karena dalam kehidupan sehari-hari seseorang penutur bahasa itu memerlukan sebanyak istilah untuk membicarakan dengan tepat dan jelas konsep-konsep yang diperlukan.
Orang yang mempunyai spesialisasi tertentu membutuhkan lebih dari satu kata untuk merajuk pada detail-detail konsep dalam spesialisasinya dan ini menyebabkan perkembangan atau pembuatan kata-kata yang khusus untuk dapat dipergunakan dalam komunikasi antara anggota kelompok seprofesi tu.
Clark dan clark menyebut penjelasan bross tentang “ bagai mana seorang ahli bedah memperoleh pengetahuannya tentang struktur badan manusia?” jawabannya ialah bahwa bagian ini diperolehnya dari pengalaman masa pendidikan.

Relativitas Bahasa
Karena bahasa berperan dalam bentuk pikiran dan kebudayaan manusia yang beraneka ragam, maka orang yang mampu menggunakan bahasa yang beraneka ragam tersebut akan mempunyai cara berfikir yang berbeda pula. Misalnya, cara berfikir orang Padang yang berbicara dalam bahasa Padang, akan berbeda cara berfikir orang Belanda yang berbicara bahasa Belanda. Perbedaab inilah yang disebut relativitas bahasa.
Relativitas bahasa merupakan prasyarat keuniversalan bahasa. Secara apriori, setiap bahasa pasti mudah untuk (1) dipelajari oleh anak-anak sebagai bahasa pertama, (2) diucapkan dan dimengerti oleh orang dewasa secaraefisien, (3) mengungkapkan pikiran manusia, dan (4) berfungsi sebagai alat komunikasi di dalam masyarakat dan kebudayaan dalam masyarakat pemakai bahasa itu.
Danks dkk (1975) berpendapat bahwa perbedaan bahasa terjadi dalam dua cara yaitu leksikal dan gramatikal. Lebih lajnjut dikemukakan bahwa perbedaan leksikal mencakup cara atau barang diberi label yang mjumlah atau kata untuk barang-arang dan kategori konsep yang supordinat.
Gleason 91961) menunjukkan bahwa tidak hanya junlah kategori warna tersebut, melainkan juga lokasi-lokasi batasantara daerah-daerah warna yang diberi label dapat bervariasi sangat besar pada bahasa-bahasa. Bahkan sesuatu yang sama universal seperti bianglala dapat dibagi dalam cara yang lebih tau kurang atau arbitrer. Perbedaan warna adalah suatu peredaan di atara penutur bahasa-bahasa yang didasarkan pada (1) kemudahan membicarakan tentang warna (2) ingatan pengenalan untuk warna, (3) persepsi warna, dan (4) organisasi subjektif jarak/ruang warna.
Cara-cara orang berbicara dengan bahasa-bahasa yang berlainan tentang warnatelah dibicarakan secara ekstensif. Kemudahan berkomunikasi tentang sesuatu seharusnya dipengaruhi oleh ketersediaan suatu kosakata yang memadai. Dalam setiap bahasa, warna-warna berbeda dalam hal codability, sejauh mana suatu warna tertentu disetujui, nama singkat (Brown, 1954).
Menurut Brown dan Lenneberg (1954) menegaskan bahwa ingatan akan warna tidak dihubungkan secara langsung pada proses linguistik. Sama seperti kemudahan berkomunikasi, ingatan pengenalan pada warna dan stimuli-stimuli yang lain dapat dipengaruhi oleh cocability.
Persepsi objek dan peristiwa serta organisasi subjektif pengalaman agak lebih mendekati apa yang biasanya diartikan dengan pikiran dan konsep-konsep realita. Akibat-akibat codability tampaknya bersifat minimal. Capability warna tidak mempunyai efek pada kemampuan untuk menilai apakah edua warna itu sama atau berlainan selama dapat memandangnya secara bersamaan waktu. Pada tingkat ini, orang yang menggunakan bahasa-bahasa yag betlainan merasakan warna-warna dalam cara yang sama. Sama halnya, hukum-hukum pencampuran warna bekerjasama baiknya sampai pada batas-batas linguistik, merah dicampur, merah dicampur kuning menghasilkan orange, kuning dicampur biru menghasilkan hijauapabila pigmen-pigmen dan pencampurannya cocok (sesuai).

8. Otak Manusia Vs Otak Binatang
8.1 Otak Manusia
Dari segi ukurannya berat otak manusia adalah antara 1 sampai 1.5 kilogram (Steinberg dkk 2001: 311; Dingwall 1998: 60) dengan rata-rata 1330 gram (Halloway 1996: 77). Untuk ukuran orang Barat, ini hanyalah 2% dari berat badannya; untuk manu­sia Indonesia bahkan mungkin kurang dari itu. Akan tetapi, ukuran yang sekecil ini menyedot 15% dari seluruh peredaran darah dari jantung dan memerlukan 20% dari sumberdaya meta­bolik manusia. Dari data ini saja tampak bahwa otak "memer­lukan" perhatian khusus dari badan kita dan tentunya ada alasan mengapa demikian.

8.1.1 Otak Pria dan Otak Wanita
Ada yang berpendapat bahwa ada perbedaan antara otak pria dengan otak wanita dalam hal bentuknya, yakni, hemisfir kiri pada wanita lebih tebal daripada hemisfir kanan (Steinberg dkk 2001: 319). Keadaan seperti inilah yang menyebabkan ke­las bahasa umumnya didominasi oleh wanita. Akan tetapi, te­muan dari Philip dkk (1987 dalam Steinberg 2001: 319) me­nunjukkan bahwa meskipun ada perbedaan dalam pemrosesan bahasa antara pria dan wanita, perbedaan ini hanya mengarah pada pengaruh budaya daripada pengaruh genetik

8.2 Otak Binatang
Sementara orang memakai sebagian besar otaknya untuk proses mental, termasuk proses kebahasaan, binatang seperti simpanse lebih banyak memakai otaknya untuk kebutuhan­kebutuhan fisiko

9. Kaitan Otak dengan Bahasa
Dari struktur serta organisasi otak manusia seperti digam­barkan di Bagian  tampak bahwa otak memegang peran yang sangat penting dalam bahasa.

9.1 Peran Hemisfir Kirl dan Hemisfir Kanan
Dari gambaran di atas jelas tarnpak bahwa hemisfir kiri meru­pakan hemisfir yang "bertanggung" jawab tentang ihwal keba­hasaan. Akan tetapi, apakah hemisfir kanan sarna sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kebahasaan?
Penelitian Wada (1949) yang memasukkan cairan ke kedua hemisfir menunjukkan bahwa bila hemisfir kiri yang "ditidurkan" maka terjadilah gangguan wicara. Tes yang dina­makan dichotic listening test yang dilakukan oleh Kimura (1961) juga menunjukkan hasil yang sama. Kimura memberikan input, katakanlah kata da pada telinga kiri, dan ba pada telinga kanan secara simultan. Hasil eksperimen ini menunjukkan bah­wa input yang masuk lewat telinga kanan jauh lebih akurat da­ripada yang lewat telinga kiri.
Di samping itu, ada hal-hal yang berkaitan dengan bahasa yang temyata ditangani oleh hemisfir kanan. Dari orang-orang yang hemisfir kanannya terganggu didapati bahwa kemampuan mereka dalam mengurutkan peristiwa sebuah cerita atau narasi menjadi kacau. Mereka tidak mampu lagi untuk menyatakan apa yang terjadi pertama, kedua, ketiga, dst.
Orang yang terganggu hemisfir kanannya juga tidak dapat mendeteksi kalimat ambigu; dia juga kesukaran memahami me­tafora maupun sarkasme.
Dari gambaran ini tampak bahwa hemisfir kanan juga mem­punyai peran bahasa, tetapi memang tidak seintensif seperti he­misfir kiri. Namun demikian, tetap saja hemisfir kanan me­megang peran yang cukup penting.


9.1.1 Gangguan Wicara
Pada umumnya, kerusakan pada hemisfir kiri mengakibatkan munculnya gangguan wicara. Gangguan macam apa yang timbul ditentukan oleh persisnya di mana kerusakan itu terjadi. Gangguan wicara yang disebabkan oleh stroke dinamakan afasia (aphasia).

9.1.2 Macam-macam Afasia
Ada berbagai macam afasia, tergantung pada daerah mana di hemisfir kita yang kena stroke. Berikut adalah beberapa macam yang umum ditemukan (Kaplan 1994: 1035).
Afasia Broca: Kerusakan (yang umumnya disebut lesion) terjadi pada daerah Broca. Afasia Broca menyebabkan gang­guan pada perencanaan dan pengungkapan ujaran. Kalimat-­kalimat yang diproduksi terpatah-patah.
Afasia Wernicke: Letak kerusakan adalah pada daerah Wernicke, yakni, bagian agak ke belakang dari lobe temporal. Korteks-korteks lain yang berdekatan juga bisa ikut kena. Penderita afasia ini lancar dalam berbicara, dan bentuk sintak­sisnya juga cukup baik. Hanya saja, kalimat-kalimatnya sukar dimengerti karena banyak kata yang tidak cocok maknanya dengan kata-kata lain sebelum dan sesudahnya. Hal ini dise­babkan karena penderita afasia ini sering keliru dalam memilih kata
Afasia Anomik: Kerusakan otak terjadi pada bagian depan dari lobe parietal atau pada batas antara lobe parietal dengan lobe temporal. Gangguan wicaranya tampak pada ketidak-mampuan penderita untuk mengaitkan konsep dan bunyi atau kata yang mewakilinya.
Afasia Global: Pada afasia ini kerusakan terjadi tidak pada satu atau dua daerah saja tetapi di beberapa daerah yang lain; Luka yang sangat luas ini tentunya mengakibatkan gangguan fisikal dan verbal yang sangat besar.
Afasia konduksi (conduction aphasia): Bagian otak yang rusak pada afasia macam ini adalah fiber-fiber yang ada pada fasi­kulus arkuat yang menghubungkan lobe frontal dengan lobe temporal.

9.1.3 Akibat Lain dari Stroke
Pengaruh stoke tidak terbatas hanya pada gangguan wicara saja. Ada gangguan-gangguan lain yang tidak langsung berka­itan dengan bahasa. Penderita apraksia (apraxia), misalnya, tidak dapat melakukan gerakan-gerakan tertentu (seperti me­mindahkan mainan balok dari tempat A ke B), meskipun dia ti­dak menderita cacat lumpuh tangan. Penderita ataksia (ataxia) kehilangan kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan muskuler yang volunter.
Orang yang kena stroke juga dapat kehilangan ingatannya.
Penderita anterograde amnesia mengalami kerusakan pada ba­gian otak yang dinamakan hippocampus. Stroke juga dapat menyebabkan penyakit prosopagnosia, yakni, ketidak-mampun untuk mengenal wajah
Ada satu gejala lain dalam wicara yang berkaitan dengan ingat­an kita yaitu gejala 'lupa-lupa ingat'. Gejala lupa­-lupa ingat tampaknya ada pola tertentu yang diikuti orang, yak­ni:
a. jumlah suku kata selalu benar
b. bunyi awal kata itu juga benar
c. hasil akhir kekeliruan itu mirip dengan kata yang sebenamya.
Gejala lain yang unik adalah gejala latah. Latah adalah su­atu tindak kebahasaan di mana seseorang, waktu terkejut atau dikejutkan, mengeluarkan kata-kata secara spontan dan tidak sadar dengan apa yang dia katakan. Latah mempunyai ciri-ciri berikut:
Latah hanya terdapat di Asia Tenggara.
Pelakunya hampir selalu wanita.
Kata-kata yang terkeluarkan umumnya berkaitan de­ngan seks atau alat kelamin pria atau jantan.
Kalau kejutannya berupa kata, maka si latah juga bisa hanya mengulang kata itu saja.


9.1.4 Hipotese Umur Kritis
Sebelum mencapai umur belasan bawah, sekitar umur 12 tahun­an, anak mempunyai kemampuan untuk memperoleh bahasa mana pun yang disajikan padanya secara natif. Hal ini tampak terutama pada aksennya. Gejala ini dinyatakan dalam hipotese yang bemama Hipotese Umur Kritis (Critical Age Hypothesis) yang diajukan oleh Lenneberg (1967). Pada esensinya hipotese ini mengatakan bahwa antara umur 2 sampai dengan 12 tahun seorang anak dapat memperoleh bahasa mana pun dengan ke­mampuan seorang penutur asH..
Hipotese Umur Kriiis banyak diperbincangkan orang dan dianut banyak orang. Namun demikian, ada pula yang me­nyanggahnya. Krashen (1972), misalnya, beranggapan bahwa lateralisasi itu sudah terjadi jauh lebih awal, yakni, sekitar umur 4-5 tahun.

9.1.5 Kekidalan dan Kekinanan
Manusia ada yang kidal (left-handed) dan ada yang (istilah barunya) kinan (right-handed). Sementara itu, ada pula orang yang mampu menggunakan tangan kiri atau kanannya secara imbang. Orang semacam ini dinamakan ambidekstrus (ambi­dextrous). Menurut penelitian yang telah dilakukan orang ( Klar 1999), jumlah penduduk dunia yang kidal hanyalah 9%. Dari jumlah ini, hanya 30% yang didominasi oleh hemisfir kanan. Hal ini berarti bahwa meskipun seseorang itu kidal, tetap saja hemisfir yang lebih dominan untuk kebahasaan adalah hemisfir kiri.
Apakah ada korelasi antara kekidalan dan kekinanan dalam pemakaian bahasa atau pun kemampuan intelektual lainnya? Jawaban untuk pertanyaan ini masih kontroversial: ada yang mengatakan bahwa kadar dominasi hemisfir kiri pada orang kidal yang tidak sekuat seperti pada orang kinan membuat orang kidal mempunyai masalah dalam hal baca dan tulis (Lamn dan Epstein 1999).

9.1.6 Bahasa Sinyal
Orang yang tidak dapat berkomunkiasi secara lisan dapat meng­gunakan piranti lain, yakni, bahasa sinyal (sign language). Ba­hasa ini mempergunakan tangan dan jari-jari untuk membentuk kata dan kalimat. Orang yang tuna rungu dapat mempergunakan bahasa sinyal untuk berkomunikasi. Bahasa sinyal itu sendiri ada beberapa macam, yang terkenal di antaranya adalah Bahasa Sinyal Amerika dan Bahasa Sinyal Inggris.


BAB III
SIMPULAN

Memori merupakan bagian integral dari eksistensi manusia. Kita tidak dapat membayangkan seperti apa manusia itu bila kita tidak dapat mengingat masa lalu, tidak dapat menyimpan masukan yang baru saja kita dengar, dan tidak dapat mengingat apa yang akan kita lakukan besok. Sebagian besar dari apa yang kita ketahui tentang dunia ini bukan berasal dari saat kita lahir tetapi kita peroleh melalui pengalaman yang kita simpan dalam memori kita.
Memori sangat menentukan seseorang dalam melakukan komunikasi lebih lanjut. Berkomunikasi memerlukan bahasa. Sebagaimana diketahui bahwa keadaan memori seseorang tergantung pada otak manusia yang terdiri atas hemisfir kanan dan kiri. Hal ini juga menentukan kemampuan seseorang dalam melakukan ujaran sehari-hari. Terkait hal tersebut, gangguan otak dapat menghambat gangguan wicara seseorang dan gejala lainnya dalam berbahasa.
Bahasa yang digunakan oleh tiap penuturnya memiliki keuniversalan dan dan kategori perceptual. Keuniversalan suatu bahasa dapat diartikan bahwa semua suku bangsa dari lingkungan geografis dan kebudayaan yang berbeda dapat berbahasa dalam arti bahwa bahasa dapat dipelajari oleh siapapun.
Dalam hipotesis relativitas, kebahasaan sangat mempengaruhi pikiran dan pikiran mempengaruhi bahasa. Hal ini dapat dilihat dalam ranah kosa kata dalam menyebutkan sesuatu atau pemberian nama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komantarnya bossss