Selasa, 29 Mei 2012

Pemerolehan Bahasa Ke 2 Model Akomodasi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Pengertian pemerolehan bahasa dan pembelajaran bahasa adalah berbeda. Pemerolehan mengacu pada kemampuan linguistik yang telah diinternalisasikan secara alami, yaitu tanpa disadari dan memusatkan pada bentuk-bentuk linguistik (baca:kata-kata). Pembelajaran, sebaliknya, dilakukan dengan sadar dan merupakan hasil situasi belajar formal. Konteks pemerolehan bersifat alami, sedangkan pembelajaran mengacu pada kondisi formal dan konteks terprogram.
Seseorang belajar bahasa karena motivasi prestasi tetapi memperoleh    bahasa karena motivasi komunikasi. Belajar bahasa dapat diukur pemerolehan sebaliknya. Kondisi pembelajaran tetap sebagai penutur tidak asli, dan pemerolehan dapat menyerupai penutur asli. Belajar bahasa ditekankan untuk menguasai kaidah dan pemerolehan untuk menguasai keterampilan berkomunikasi (lisan dan tertulis).
Pemerolehan bahasa pertama erat sekali kaitannya dengan perkembangan sosial anak dan erat pula hubungannya dengan pembentukan identitas sosial. Pemerolehan bahasa pertama (B1) pun amat mempengaruhi kemampuan pemerolehan bahasa kedua (B2) sehingga sering terjadi kesalahan dalam berkomunnikasi di lingkugan sosial.
Anda pasti sependapat apabila siswa yang mempelajari bahasa Indonesia dipengaruhi oleh penguasaan bahasa pertamanya (B1). Akibatnya siswa     dalam pemerolehan  dan  pembelajaran bahasa Indonesia mengalami                  kesulitan     dan
melakukan kesalahan berbahasa. Hal itu merupakan akibat interfersensi yang terdapat bahasa pertama (B1)  dengan bahasa kedua siswa.

Interferensi inilah yang akan  menjadi latar belakang makalah ini yang diimplikasikan dengan model akomodasi dalam pemerolehan bahasa kedua. Dalam makalah ini, penulis memaparkan tentang interferensi yang dilakukan siswa dalam berkomunikasi di lingkungan sekolah dan bagaimana guru menggunakan model akomodasi dapat memotivasi siswa untuk menggunakan bahasa kedua dengan baik dan benar.

 1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, secara garis umum masalah penelitian ini dapat dapat dirumuskan sebagai berikut,
1.      Bentuk interferensi apakah yang terjadi dalam komunikasi siswa di lingkungan   
sekolah?

2.      Apakah  model akomodasi dapat memotivasi siswa dalam pemerolehan bahasa? 
kedua?

1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah  ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran kemampuan bahasa kedua model akomodasi.
1.4 Manfaat penulisan
Berdasarkan masalah penulisan dan tujuan penelitian yang dikemukakan di atas, hasil penulisan diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut.
1.      Bagi jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Muhammadiyah hasil penulisan makalah ini menjadi suatu motivasi untuk membuat secara khusus materi lengkap Pemerolehan Bahasa Kedua yang menggunakan beberapa model.
2.      Bagi dosen  hasil penulisan makalah ini dapat mengukur tingkat pemahaman mahasiswa mengenai teori akomodasi dalam pemerolehan dan pembelajaran bahasa.
3.      Bagi mahasiswa penulisan makalah ini diharapkan mampu menambah pengetahuan tentang Pemerolehan Bahasa Model Akomodasi.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1            Interferensi dan Pengertiannya
Dwibahasawan melakukan interferensi dari satu bahasa kebahasa lain ketika komunikasi berlangsung, baik lisan maupun tulisan. Martinet (Badudu, 1985:170)  mengatakan bahwa hanya orang jenius saja yang mampu menggunakan dua bahasa atau lebih tanpa terjadi pada dirinya gejala yang disebut interferensi bahasa. Pendapat Briere tersebut senada dengan pendapat yang diungkapkan oleh Denish Girard (1972:570). Ia mengumakakan bahwa bahasa kedua yang mirip dengan bahasa ibu atau bahasa pertama dapat menumbulkan peluang untuk dicampuradukan.
Pencampuradukan dua bahasa inilah yang menimbulkan gejala interferensi. Menurut Oksaar (1975: 65) jumlah interferensi antara dua bahasa yang serupa lebih besar daripada dua yang berbeda. Interferensi adalah: The errors by carrying over the speech habits of the native language or dialect into a second language or dialect. (Hartman dan Stork 1972:115). (= kekeliruan yang disebabkan terbawanya kebiasaan-kebiasaan ujaran bahasa atau dialek ibu ke dalam bahasa atau dialek kedua). Dengan berpatokan pada pendapat Hartman dan stork Alwasilah (1990:131) memandang interferensi sebagai kekeliruan yang disebabkan oleh adanya kebiasan-kebiasan ujaran bahasa atau dialek ibu kedalam bahasa atau dialek kedua. Selanjutnya, Alwasilah menyatakan bahwa interferensi bisa terjadi pada pengucapan, tata bahasa, kosa kata dan makna bahkan budaya baik dalam ucapan maupun tulisan terutama ketika seorang sedang mepelajari bahasa kedua. Pernyataan ini menggambarkan bahwa interferensi dapat terjadi pada semua lapisan bahasa ketika seseorang melakukan kegiatan berkomunikasi atau ketika berbicara. Baik lisan, maupun tulisan.

Untuk mengetahui seluk beluk tentang interferensi dari beberapa pakar atau ahli bahasa yang ada. Maka, kami akan munguraikan pendapat Rusyana. Rusyana (1984:54) merumuskan defenisi interferensi sebagai penggunaan unsur-unsur yang termasuk ke dalam bahasa ketika berbicara atau menulis dalam bahasa lain. Lebih luas lagi, Rusyana menyatakan bahwa  interferensi bisa mencakup 3 aspek, yaitu: (1) Penggunaan unsur-unsur yang termasuk kedalam suatu bahasa waktu berbicara atau menulis dalam bahasa lain; (2) Penerapan dua buah sistim secara serempak kepada suatu unsur bahasa; atau (3) Akibatnya berupa penyimpangan dari norma masing-masing bahasa yang terjadi dalam tuturan penutur dwibahasawan.

2.2 Pengertian Model Akomodasi
Model akomodasi memusatkan perhatian pada tuturan dan berusaha menjelaskan mengapa pewicara cenderung memodifikasi tuturannya di tengah-tengah kehadiran orang iain (Trudgill 1986). Menurut Crystal (1997: 4), akomodasi adalah suatu teori dalam sosiolinguistik yang bertujuan untuk menjelaskan mengapa orang-orang memodifikasi gaya tuturannya menjadi lebih sama atau kurang sama dengan tuturan mitra wicaranya. Senada dengan hal ini, Asher dan Simpson (1994) mengemukakan bahwa teori akomodasi komunikasi adalah kerangka kerja yang dirancang untuk meneliti fenomena dan proses akomodatif yang pada tahun-tahun awalnya dikaitkan dengan hal-hal yang mendahului dan yang menjadi konsekuensi perubahan bahasa seseorang ke arah atau menjauh dari varietas orang lainnya, yang masing-masing disebut dengan konvergensi dan divergensi tutur
Di sisi lain Matthews (199i': 5) mengemukakan bahwa akomodasi adalah cabang sosiolinguistik yang menelaah penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan pewicara dalam mengadaptasi atau mengakomodasi tuturannya dalam merespon mitra wicara, yang, misalnya, adalah penutur dialek lain. Pemakaian kata mengadaptasi (menyesuaikan diri) di sini mencerminkan bahwa Mattliews menyejajarkan akomodasi linguistis dengan konvergensi linguistis. Hal senada juga dikemukakan oleh Asher dan Simpson (1994), yang menyatakan bahwa akomodasi adalah penyesuaian tuturan seseorang atau perilaku komunikatif lainnya ke arah perilaku orang-orang dengan siapa dia berinteraksi atau ke arah mitra wicara.
Upaya pemodifikasian tutur dalam konteks dianggap sebagai akomodasi ke bawah karena hal itu dilakukan untuk membantu mitra wicara memahami isi tuturan pewicara atau untuk meningkatkan efisiensi tutur.

Akomodasi digolongkan ke atas (upward accommodation) jika pembicara mengadaptasi bahasanya ke arah varietas yang digunakan mitra wicara, yang oleh pewicara dan atau umum dirasakan lebih tinggi gengsinya atau lebih fungsional daripada bahasa yang digunakan oleh pewicara. Akomodasi ini dapat bertujuan praktis maupun strategis. Tujuan praktisnya adalah untuk mengefektifkan komunikasi, sedangkan tujuan strategisnya untuk meningkatkan gengsi






        






BAB III
Masalah dan PEMBAHASAN
           
            3.1 Masalah
Penguasaan bahasa, baik bahasa pertama maupun bahasa kedua diperoleh melalui proses belajar. Sebagian para ahli pengajaran bahasa membedakan antara proses penguasaan bahasa pertama dan penguasaan bahasa kedua. Proses penguasaan bahasa pertama bersifat ilmiah dan disebut pemerolehan bahasa (language acquisition). Proses penguasaan bahasa perama ini berlangsung tanpa adanya suatu perencanaan terstruktur. Secara langsung anak-anak memperoleh bahasanya melalui kehidupan sehari-hari dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Setiap ada yang normal secara fisik, psikis, dan sosiologis pasti mengalami proses pemerolehan bahasa pertama. Proses ini berlangsung tanpa disadari oleh anak. Anak juga tidak menyadari motivasi apa yang mendorongnya berada dalam kondisi pemerolehan bahasa pertama itu.
Selanjutnya, proses penguasaan bahasa kedua terjadi setelah seseoang menguasai bahasa pertama dan disebut belajar bahasa (language learning). Proses belajar bahasa kedua pada umumnya berlangsung secara terstruktur di sekolah melalui perencanaan program kegiatan belajar mengajar yang sengaja disusun untuk keperluan itu. Dalam proses ini, si pembelajar menyadari bahwa dia sedang belajar bahasa. Dia juga menyadari motivasi apa yang mendorongnya untuk menguasai bahasa kedua itu.   
Proses belajar bahasa bersifat kompleks. Proses ini sangat berkaitan dengan aspek fisik dan psikis pembelajar. Sehubungan dengan aspek psikis, belajar bahasa adalah suatu proses mental yang di dalamnya berisi aktivitas psikologis, sedangkan sehubungan dengan aspek fisik, belajar bahasa berkaitan dengan perkembangan kematangan berbagai organ wicara. Proses terjadinya kesalahan berbahasa berkaitan erat baik dengan aspek psikis maupun dengan aspek fisik.

Parawansa (1981) mengadakan penelitian tentang interferensi morfologi pada dwibahasawan anak usia sekolah dasar di daerah Kabupaten Gowa Propinsi Sulawesi Selatan. Ternyata penelitian itu hasilnya bahwa tidak sepenuhnya persamaan dan perbedaan struktur kedua bahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Makasar) menjadi dasar peramalan bagi terjadinya interferensi morfologi pada penggunaan bahasa Indonesia oleh siswa (anak) berbahasa pertama Makasar. Meskipun demikian, ternyata interferensi itu sebagian besar disebabkan oleh perbedaan struktur morfologi dari kedua bahasa itu, dan terjadi dalam tataran keempat sistem morfologi, yakni: sistem nomina, verbal, adjektiva dan partikel.

Hasil lain yang ditemukan dari penelitian itu, menurut Parawansa (1981) tipe interferensi morfologi pada kekhilafan bahasa anak terjadi pada tataran:
1. Penggunaan unsur morfologi bahasa Makasar di dalam tuturan bahasa Indonesia (importansi).
2. Penerapan atau penambahan unsur morfologi bahasa Makasar ke dalam unsur morfologi bahasa Makasar ke dalam unsur morfologi bahasa Indonesia (substitusi).
3. Pengabaian atau penghilangan unsur morfologi bahasa Indonesia yang tidak terdapat modelnya dalam bahasa Makasar.
4. Penambahan (perluasan atau pengurangan) fungsi morfologi bahasa Indonesia berdasarkan model morfologi bahasa Makasar.

Dari beberapa gambaran fenomena interferensi bahasa pertama (B1) pada bahasa kedua (B2). Dalam makalah ini pun, penulis menggambarkan interferensi bahasa pertama (B1) pada bahasa kedua (B2) siswa SMP Muhammadiyah 3 Bontoala ketika melakukan komunikasi di kelas. Kegiatan ini dilakukan saat guru menanyakan beberapa hal kepada 3 orang siswa, masing-masing siswa dari kelas VII, VIII, dan IX.

Sampel komunikasi I tersebut sebagai berikut,
Guru                : Mengapa kamu tidak datang latihan kemarin?
Siswa               : Tidak na kasi tauka temanku, bu.
Guru                : Mengapa tidak menelpon saya?
Siswa               : Tidak ku tauki nomorta bu.
Guru                : Kamu tidak pernah mencatat nomor HP saya?
Siswa               : Tidak bu, ka tidak pernahki tanyaka bilang ambilki nomorku.

Sampel komunikasi II

Guru                : Apakah tugas menulis pidato sudah selesai?
Siswa               : Sudahmi bu.
Guru                : Bagus!
Siswa               : Kenapa tidak datangki mengajar kemarin bu?
Guru                : Kemarin saya tidak masuk mengajar karena ibu ke kantor
                          Dinas.
Siswa               : Oh, padahal Rifa sudah siap tawwa bacakang pidatonya di
  depang kelas.
Guru                : Hanya Rifa yang siap membacakan pidatonya, yang lain  
  belum siap?
                        Siswa               : Saya Bu belum siap.
                        Guru                : mengapa?
                        Siswa               : saya tidak kerjai ka pigi kemarin di rumah saki.

                        Sampel komunikasi III

                        Guru                : Mengapa Halim tidur dalam kelas?
                        Siswa               : Sudah saya minum obat.
                        Guru                : Mengapa minum obat?
                        Siswa               : sakiki perutku Bu.
                        Guru                : Tadi pagi, kamu tidak sarapan ya?
                        Siswa               : makan ja Bu kue, tapi sepotongji.
                        Guru                : mengapa tidak sarapan?
Siswa               : baru mau masak mamakku na dipanggilki sama nenekku ke
  rumahnya.

3.1  Pembahasan
3.1.1        Bentuk interferensi B1 pada B2

Dari gambaran permasalahan di atas mengenai interferensi yang sering terjadi ketika penutur berkomunikasi dengan penutur yang lain. Terdapat beberapa penyimpangan yang dilakukan secara tidak sadar oleh penutur bahasa tersebut. Ada beberapa kesalahan akibat interferensi bahasa pertama (B1) pada bahasa kedua (B2) yang mempengaruhi si penutur dalam berkomunikasi. Interferensi dapat terjadi pada sebuah komponen kebahasaan. Ini berarti bahwa peristiwa itu dapat terjadi pada bidang fonologi, morfologi, sintaksis maupun kosa kata.

Kesalahan berbahasa dapat disebabkan oleh intervensi (tekanan) bahasa pertama (B1) terhadap bahasa kedua (B2). Kesalahan berbahasa yang paling umum terjadi akibat penyimpangan kaidah bahasa. Hal itu terjadi oleh perbedaan kaidah (struktur) bahasa pertama (B1) dengan bahasa kedua (B2). Selain itu kesalahan terjadi oleh adanya transfer negatif atau intervensi B1 pada B2.

 Dari hasil sampel komunikasi yang digambarkan pada permasalahan di atas, maka interferensi dapat di identifikasi sesuai komponen kebahasaan, yaitu;

Sampel komunikasi I

Guru                : Mengapa kamu tidak datang latihan kemarin?
Siswa               : Tidak na kasi tauka temanku, Bu.
                                    Seharusnya
                          Tidak ada teman yang memberi tahukan kepada saya
Guru                : Mengapa tidak menelpon saya?
Siswa               : Tidak ku tauki nomorta bu.
                                    Seharusnya
                          Saya tidak tahu nomor HP Ibu.
Guru                : Kamu tidak pernah mencatat nomor HP saya?
Siswa               : Tidak bu, ka tidak pernahki tanyaka bilang ambilki nomorku.
                                    seharusnya
Tidak Bu, Karena Ibu tidak pernah sampaikan bahwa nomor HP Ibu harus dicatat.


Sampel Komunikasi II 

Guru                : Apakah tugas menulis pidato sudah selesai?
Siswa               : Sudahmi bu.
                                    Seharusnya
                          Sudah Bu
Guru                : Bagus!
Siswa               : Kenapa tidak datangki mengajar kemarin bu?
                                    Seharusnya
                          Mengapa Ibu tidak datang kemarin
Guru                : Kemarin saya tidak masuk mengajar karena ibu ke kantor
                          Dinas.
Siswa               : Rifa sudah siap tawwa bacakang pidatonya di
  depang kelas.
            Seharusnya
  Rifa siap membacakan pidatonya di depan kelas
Guru                : Hanya Rifa yang siap membacakan pidatonya, yang lain  
  belum siap?
                        Siswa               : Saya Bu belum siap.
                                                            Seharusnya
                                                  Saya belum siap Bu.
                        Guru                : mengapa?
                        Siswa               : saya tidak kerjai ka pigi kemarin di rumah saki.
                                                            Seharusnya
Saya tidak mengerjakan tugas pidato karena kemarin saya ke    
rumah sakit


Sampel komunikasi III

                        Guru                : Mengapa Halim tidur dalam kelas?
                        Siswa               : Sudah saya minum obat.
                                                            Seharusnya
                                                  Saya sudah minum obat
                        Guru                : Mengapa minum obat?
                        Siswa               : sakiki perutku Bu.
                                                            Seharusnya
                                                  Perut saya sakit, Bu.
                        Guru                : Tadi pagi, kamu tidak sarapan ya?
                        Siswa               : makan ja Bu kue, tapi sepotongji.
                                                            Seharusnya
                                                  Saya makan kue Bu, tetapi hanya sepotong
                        Guru                : mengapa tidak sarapan?
Siswa               : baru mau masak mamakku na dipanggilki sama nenekku ke
  rumahnya.
            Seharusnya
  Sementara Ibu mau masak, tetapi nenek memanggil Ibu ke  
  Rumahnya.


Penyimpangan bahasa yang dilakukan oleh para penutur, terutama anak (siswa) dalam pemerolehan dan pembelajaran bahasa. Berdasarkan kategori taksonomi kesalahan atau kekeliruan bahasa, anda sudah dapat memprediksikan sumber-sumber kesalahan bahasa. Dari parameter penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar kemudian dihubungkan dengan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, itulah sumber yang utama untuk analisis kesalahan bahasa dalam sajian ini. Penyimpangan bahasa yang diukur berada pada tataran (wilayah) fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan wacana yang dihubungkan dengan faktor-faktor penentu dalam komunikasi.


3.1.2        INTERFERENSI BAHASA MODEL AKOMODASI

Model akomodasi bertujuan untuk memperbaiki penyimpangan bahasa kedua yang digunakan
























BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
1.      Kesimpulan
Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Istilah pemerolehan dipakai untuk padanan istilah Inggris acquisition, yakni proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa ibunya (native language). Istilah ini dibedakan dari pembelajaran yang merupakan padanan dari istilah learning. Dalam pengertian learning proses itu dilakukan dalam tatanan yang formal, di belajar di kelas dan diajar oleh seorang guru. Dengan demikian, proses dari anak yang belajar menguasai bahasa ibunya disebut pemerolehan bahasa, sedangkan proses dari orang (umumnya dewasa) yang belajar di kelas disebut pembelajaran bahasa.
Akomodasi dalam sosiolinguistik adalah penyesuaian tuturan seseorang atau perilaku komunikati lainnya ke arah perilaku orang-orang dengan siapa dia berinteraksi atau ke arah mitra wicara. Dalam Sosio-Psikologi model akomodasi mengarah pada penyesuaian tuturan terhadap kelompok lain dan motivasi sebagai faktor yang terdapat dalam diri manusia untuk mengaplikasikan  kemampuan berbahasa kedua.
Faktor-faktor yang memudahkan kemampuan bahasa kedua model akomodasi adalah:
1.      penutur menyadari bahwa bahasa kedua, dalam hal ini bahasa Indonesia  penting sebagai suatu bahasa yang beridentitas sebagai bahasa nasional,.
2.      Kelompok bahasa menyadari bahwa bahasa Indonesia penting digunakan mengingat bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang tinggi disbanding bahasa daerah sebab bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu,
3.      Bahasa pertama yang diperolehnya adalah bahasa Indonesia,
4.      Masyarakat menyadari bahwa rasa sukuisme menghambat kemampuan memperoleh bahasa kedua,

2.      Saran
Materi Pemerolehan bahasa kedua model akomodosi belum mendapat perhatian yang lebih dari beberapa pihak pengajar bahasa Indonesia, baik guru maupun dosen. Sehingga penyajian dalam makalah ini amat terbatas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komantarnya bossss