Selasa, 29 Mei 2012

Kritik Sastra dalam Novel Memory In Sorong


BAB I PEDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG

Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri dari beribu pulau yang dihuni dari berbagai suku bangsa, golongan dan lapisan sosial. Mengingat hal itu, sudah barang tentu akan menghasilkan berbagai macam budaya, adat istiadat, dan karya sastra yang berbeda. Namun dengan demikian lahirnya negara kesatuan Republik Indonesia dapat memberikan rasa persatuan dan kesatuan atas budaya , adat istiadat, bahasa, dan sastra yang berbeda dengan dasar Bhineka Tunggal Ika.
 Sastra memiliki budaya yang tercermin dalam pemberian arti aspek-aspek pada berbagai jenis perilaku atau tindakan antar individu maupun golongan secara utuh. Karya sastra menampilkan cermin masyarakat tampak lebih dominan terdapat pada novel daripada puisi atau drama, meski tidak sedikit pula drama dan puisi yang dihasilkan sastrawan-sastrawan kita, sarat menampilkan gambaran demikian. Khusus mengenai novel, ada kecenderungan masalah tersebut berkaitan dengan warna lokal atau gambaran tradisi masyarakat tertentu. Jadi, tidak semua karya sastra dapat secara leluasa dianalisis berdasarkan pendekatan sosiologis. Dalam hal ini, cermin masyarakat itupun mesti selalu dalam konteks konvensi sastra.
Dengan segala kekurangan dan kelemahannya penulis mencoba mengangkat karya sastra berupa novel yaitu Memory in Sorong.
Novel Memory in Sorong mengisahkan tentang seorang penyiar Televisi Senada Jakarta yaitu Ajeng Suseno yang lahir dari keluarga ningrat yang tak harmonis, dikarenakan ayahnya yang seorang tentara ketika bertugas di Sorong untuk membersihkan Belanda dari Irian, menikahi seorang sukarelawan muda yang bernama Anneke dan memiliki anak yang bernama Lisa. Pernikahan ayahnya (Kapten Himawan Suseno) yang dirahasiakan terungkap ketika ibu ajeng membuka sebuah kotak dalam koper yang berisi foto ayah Ajeng dengan perempuan Irian dan mengendong seorang bayi.
Ajeng yang merupakan penyiar Televisi Senada Jakarta mendapat tugas dari kantornya untuk meliput suasana sorong untuk dijadikan tajuk dalam acara televisi. Sehingga kesempatan itu juga digunakan Ajeng untuk mencari tahu perempuan yang ada dalam foto tersebut. Dalam hal ini pepatah mengatakan “sekali mendayung dua pulau terlampaui”. Akan tetapi ketika sampai di Kota Sorong Ajeng terjebak cinta David yang merupakan Kepala Bank Swasta yang sudah memiliki istri yang bernama Ira.
Tesis ini berjudul Analisis Sosiologi dalam Novel Memory in Sorong karya Pudji Isdriani. K yang berkisahkan tentang perjalanan hidup tentang seorang perempuan yang mencari penyebab jatuhnya air mata bunda yang tercinta. Novel ini juga berisikan ajaran-ajaran budaya dan pesan yang mungkin berguna bagi pembaca dan peminat novel.
Dalam Novel Memory in Sorong ditemukan juga beberapa nilai-nilai sosiologis yang didapat penulis yaitu :
1.               Tanggung jawab orangtua kepada anaknya.
2.               Pengabdian yang tidak ternilai harganya.
3.               Rasa cinta yang begitu dalam anak kepada ibundanya.
Dengan demikian karya sastra bukanlah suatu uraian-uraian kosong atau khayalan yang sifatnya sekedar menghibur pembaca saja akan tetapi melalui karya sastra tesebut dihidupkan oleh pembaca agar lebih arif dan bijaksana dalam bertindak dan berpikir karena pada karya sastra selalu berisi masalah kehidupan manusia nyata untuk dijadikan pedoman bagi pembaca. Jadi, pendekatan sosiologis atau sosio-kultural, perlu terus digalakkan untuk mengangkat berbagai tradisi kultural masyarakat kita yang multi-etnis. Justru dalam hal itulah, kekayaan sastra Indonesia menjadi sangat khas Indonesia dibandingkan dengan kesusastraan negara lain. Dengan cara ini kita masih akan menemukan nilai cermin masyarakat atau nilai lain, sejauh tetap menempatkan secara kontekstual dan proporsional.
B.     Rumusan Masalah
Dalam penulisan skripsi ini perumusan masalah sangat penting, mengingat dari perumusan masalah tersebut maka kita dapat meihat isi dari tesis dan permasalahan yang hendak diselesaikan.
Perumusan Masalah sangat penting dalam pembuatan tesis, karena dengan adanya perumusan masalah maka deskripsi masalah akan terarah sehinga hasilnya dapat dipahami dan dimengerti oleh pembaca. Adapun masalah yang akan dibahas dalam tesis ini adalah:
1.       Bagaimanakah nilai–nilai sosiologis yang terdapat dalam Novel “ MEMORY IN SORONG “?
2.       Bagaimanakah unsur pembentuk dari Novel “MEMORY IN SORONG“ yang dilihat dari unsur interistiknya ?
C.     Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini memiliki tujuan yang sangat berguna bagi penulis dan pembaca. Dimana tujuan dari penelitian ini adalah
1.       Agar mengetahui nilai-nilai sosiologis yang terkandung dalam novel tersebut.
2.       Untuk mengetahui unsur pembentuk cerita dari karya sastra tersebut

 D.    Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini terbagi atas dua yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.
1.      Manfaat Teoritis
Bagi penulis, berharap dari penelitian ini akan mampu menambah wawasan serta lebih mengerti dan memahami teori-teori yang didapat selama proses perkuliahan dimana sastra yang dikaji dari berbagai aspek, dan salah satunya aspek sosiologi.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi almamater, penelitian ini dapat menambah referensi yang ada dan dapat digunakan oleh semua pihak yang membutuhkan. Penelitian ini. juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran terutama dalam pendidikan Bahasa dan Sastra indonesia. 
b.      Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan kepustakaan yang merupakan informasi tambahan yang berguna bagi pembaca dan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak- pihak yang mempunyai permasalahan yang sama atau ingin mengadakan penelitian lebih lanjut.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1.      Pengertian Sastra
Batasan sastra yang defenitif belum ada hingga kini yang berlaku secara universal. Keseluruhan defenisi yang telah ada dirasa kurang lengkap, karena hanya menekankan beberapa aspek saja. Luxemburg (1986) mengatakan :
” Menurut hemat kami tidak mungkin memberikan definisi yang universal mengenai sastra. Sastra bukanlah sebuah benda yang kita jumpai, sastra adalah sebuah nama dengan alasan tertentu diberikan kepada sejumlah hasil dalam suatu lingkungan kebudayaan.”

Menurutnya ada beberapa alasan yang mungkin membuat kata sastra tidak dapat didefenisikan secara definitif. Adapun alasan-alasannya sebagai berikut:  :
1.      Sulitnya orang menentukan sebuah karya sastra tersebut, untuk mengkategorikan apakah karya sastra tersebut termasuk sastra atau tidak.
2.      Sastra didefinisikan di dalam situasi para pembaca, yang menyebabkan karya bagi seseorang termasuk sedangkan bagi orang lain tidak.
4.      Kebanyakan definisi sastra, sedikit-dikitnya kurang relevan bila diterapkan pada sastra. Misalnya, yang dicari ( disajikan ) untuk sastra, tetapi setelah dianalisis defenisi tersebut lebih cocok untuk puisi.
Sekalipun demikian, banyak para ahli mencoba untuk memberikan batasan mengenai sastra. Sebagai bahan bandingan, penulis mengemukakan pendapat beberapa ahli sebagai berikut :
Teeuw (1988) mengatakan :
“ Kata sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta, akar kata sas-, dalam kata kerja turunan berarti mengarahkan, mengajar memberikan petunjuk atau instruksi. Akhir –tra biasanya menunjukkan alat, saran. Maka dari itu sastra dapat berarti , alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi dan atau pengajar ; misalnya silpasastra, buku arsitektur, kemasastra, buku petunjuk mengenai seni cinta. Awalan su- berarti ‘ baik ‘, ‘indah’, sehingga susastra dapat dibandingkan dengan berbagai belles letters”.

Kutipan menyatakan sastra dapat diartikan sebagai alat untuk mengajar, untuk memberikan instruksi dan petunjuk kepada pembaca sebagai minat. Kemudian Supardi Djoko Damono (1985) mengatakan :
“ Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium, bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. “.
Kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan. Jakob Sumardjo dan Saini K.M (1986) mengatakan :
“Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, semangat keyakinan dalam bentuk konkrit yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa”.


Sedangkan Rene Wellek dan Austin Warren (1986) mengatakan : “Sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni “.
Dari keseluruhan defenisi sastra diatas, adalah berdasarkan persepsi masing-masing dan sifatnya deskriptif, pendapat itu berbeda satu sama lain. Masing-masing ahli menekankan aspek-aspek tertentu namun yang jelas, defenisi tersebut dikemukakan dengan prinsip yang sama yaitu manusia, seni ,dan lingkungan. Manusia menggunakan seni sebagai pengungkapan segi-segi kehidupan. Ini suatu kreatif bagi manusia yang mampu menyajikan pemikiran dan pengalaman hidup dengan bentuk seni sastra.
Pengertian seni sastra tidak pernah mendapat batasan yang memuaskan seperti membuat batasan tetang ilmu hayat, misalnya sastra adalah kegiatan seni yang berhubungan dengan ekspresi dan penciptaan. Sedangkan membuat batasan adalah kegiatan keilmuan. Inilah sebabnya setiap usaha membuat batasan tentang sastra, selalu hanya merupakan pemberian atau gambaran dari suatu segi saja. Tiap segi hanya memunculkan sebagian kebenaran, sehingga tidak mungkin ada batasan yang sanggup meliputi semua segi kebenaran tentang sastra. Meskipun tidak mungkin membuat batasan sastra memuaskan, tetapi juga bermunculan batasan-batasan sastra sepanjang zaman.
Ada yang menyatakan Sastra adalah ungkapan ekspresi pikiran dalam bahasa, yang dimaksud disini adalah pandangan, ide-ide, perasaan, pemikiran, buku yang memuat perasaan manusia yang mendalam dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan dan bentuk yang mempesona. Dari beberapa batasan yang diuraikan diatas dapat disebut beberapa unsur batasan yang selalu disebut untuk unsur-unsur itu adalah isi sastra berupa pikiran, perasaan, pengalaman, ide-ide, semangat kepercayaan dan lain-lain.
Ekspresi atau ungkapan adalah upaya untuk mengeluarkan sesuatu bakat yang tertanam dari dalam diri manusia. Bentuk diri manusia dapat diekspresikan keluar, dalam berbagai bentuk, sebab tanpa bentuk tidak akan mungkin isi tadi disampaikan   kepada orang lain. Ciri khas pengungkapan bentuk pada sastra adalah bahasa. Bahasa adalah bahan utama untuk mewujudkan ungkapan pribadi didalam suatu bentuk yang indah. Dengan unsur-unsur tadi kiranya dapat dibuat batasan sastra sebgai berikut : sastra adalah ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk konkret yang memungkinkan pesona dengan alat bahasa. Batasan ini bersifat deskripsi yang mencakup semua karya sastra yang bermutu atau tidak dalam suatu zaman
Yang mendorong lahirnya sastra adalah keinginan dasar manusia untuk menaruh minat sesama manusia realitas, tempat hidupnya dan dunia angan-angan yang dihayalkan sebagai dunia nyata. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sastra adalah bagian kehidupan manusia sebagai manifestasi kehidupannya yang dituangkan lewat bahasa lisan maupun tulisan dalam bentuk seni. Pendapat klasik mengatakan, bahwa karya sastra yang baik selalu memberi pesan kepada pembaca, pesan ini dinamakan moral, dan perkembangan sekarang disebut Amanat. Tugas ini dihubungkan dengan konsep Horatius yaitu Docere dan Delectare (memberi ajaran dan kenikmatan). Pendapat tesebut dijelaskan oleh pendapat ahli berikut :
            A.Teew (1991) mengatakan :

“Dalam istilah Horatius, seniman bertugas memberi ajaran dan kenikmatan ; sering kali ditambah mofere, menggerakkan pembaca kepada kegiatan yang harus bertanggung jawab, seni harus menggabungkan sifat Utile dan Dulce, bermanfaat dan manis”.

Berdasarkan kutipan diatas diterangkan bahwa Dolcere dan Delectare dirasa kurang lengkap, sehingga sering mengikut sertakan Movere, menggerakkan pembaca dalam proses kreatif yang bertanggung jawab. Berkenaan dengan itu karya sastra mempunyai efek yang harus dihasilkan denga menggabungkan sifat-sifat Dulce dan Utile (manis dan bermanfaat). Bermanfaat berarti tidak terbuang, dengan seefektif mungkin. Manis berarti menghibur dan memberi kenikmatan. Agar lebih jelas lagi  Rene Wellek dan Austin Warren (1986) mengatakan :
“ Bermanfaat dalam arti luas sama dengan “ tidak membuang waktu “, bukan sekedar “ kegiatan iseng jadi sesuatu yang perlu mendapat perhatian yang serius. “Menghibur “ sama dengan “ tidak membosankan “, bukan kewajiban “, dan memberikan kesenangan ”.
Dalam uraian tersebut diatas dapat dijelaskan, bahwa fungsi sastra harus dikaitkan pada sifta Utile dan Dulce, yaitu memberi manfaat atau kenikmatan kepada pembaca, dan kemudian diterima denga tidak besifat keharusan atau paksaan.
2.      Pengertian Sosiologi
Secara etimologis sosiologi berasal dari kata socius dan Logos. Socius adalah kawan atau kelompok, sedangkan logos berarti uaraian atau pengetahuan. Atas dasar pengertian demikian sosiologi dapat diartikan sebagai ilmu atau pengetahuan yang sistematis tentang kehidupan kelompok manusia, atau ilmu tentang kehidupan manusia dengan manusia-manusia lainnya, yang secara umum disebut masyarakat.
Pengertian sederhana tentang sosiologi seperti diatas tampak dalam beberapa batasan tentang ahli sosiologi sebagai mana yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Adapun defenisi sosiologi yang dikemukakan oleh beberapa ahli sosiologi antara lain : 
William dalam Sahdina (2010) mengatakan
“ Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial juga “.
Soelaeman Soemardi dalam Utomi (2010) mengatakan :
“ Sosiologi atau ilmu masyarakat ialah ilmu yang mempelajari struktur dan proses-proses sosial, termasuk perubahan sosial. Struktur sosial, keseluruhan jaringan antara unsur yang pokok yaitu kaedah atau norma-norma sosial. Proses sosial pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama, umpamanya pengaruh timbal balik antara segi kehidupan ekonomi dengan segi kehidupan agama dan antara segi kehidupan dengan segi kehidupan ekonomi dan lain sebagainya “.

Dari defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa objek yang dipelajari dalam Sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antara manusia didalam masyarakat. Pengertian Masyarakat terkandung dalam beberapa unsur hakiki yaitu manusia-manusia, tinggal bersama, dan saling berinteraksi, sadar akan adanya aturan atau norma yang wajib mereka taati secara sadar dan bersama-bersama menciptakan kebudayaan.
Adapun unsur-unsur masyarakat tersebut adalah :
a.       Manusia yang hidup bersama.
Didalam ilmu sosial tidak ada kurang mutlak ataupun angka yang pasti untuk menentukan beberapa jumlah manusia yang harus ada, akan tetapi paling sedikit dua orang yang hidup bersama
b.      Bercampur untuk waktu yang cukup lama.
Berkumpulnya manusia akan mucul manusia yang baru. Manusia muncul dapat juga bercakap-cakap, merasa dan mengerti, juga mempunyai keinginan untuk menyampaikan kesan-kesan atau perasaan-perasaannya. Sebagai akibat hidup besama itu, timbullah sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan kelompok tersebut.
c.          Mereka sadar bahwa mereka merupakan suatu kesatuan makanya mereka disebut manusia yang sadar.
d.         Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan oleh karena setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat satu sama lainnya.
Sosiologi adalah telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat dan tentang sosial dan proses sosial. Sosiologi menelaah tentang bagaimana masyarakat itu tumbuh dan berkembang. Dengan mempelajari lembaga- sosial dan segala masyarakat perekonomian, keagamaan, politik dan lain-lain kita dapat gambaran tentang cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, mekanisme masyarakatnya, serta proses pembudayaannya.
Sosiologi dapat diartikan sebagai ilmu atau kelompok pengetahuan yang sistematis tentang kehidupan manusia dalam hubungannya dengan manusia-manusia lainnya secara umum di sebut Masyarakat.
Sosiologi disisi lain sebagai ilmu berbicara tentang aspek-aspek kemasyarakatan selalu dapat dimanfaatkan untuk membicarakan sebuah karya sastra. Nilai-nilai sosiologi pada sebuah cerita dapat diwujudkan untuk mencapai pemahaman yang mendalam.
Ilmu sosial digunakan untuk masyarakat itu sendiri dan diciptakan oleh masyarakat demi terjalinnya hubungan yang harmonis antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya dalam kehidupan
3.      Hubungan Sastra dengan Sosiologi
Hal ini membuktikan bahwa kehadiran sastra mempunyai peranan penting dalam membentuk struktur masyarakatnya. Pengarang dan karyanya merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan dalam rangka membicarakan sebuah karya sastra.di sisi lain, pengarang adalah anggota dari kelompok masyarakat yang hidup di tengah tengah kelompok masyarakat tersebut. Jacob Sumardjo juga menekankan, bahwa kehadiran karya sastra merupakan salah satu wujud pelestarian dari keadaan sosio kultur suatu masyarakat dimana ia tercipta.
Jacob Sumardjo (1986 ) mengatakan :
” karya sastra menampilkan wajah kultur jamannya, tetapi lebih dari itu sifat-sifat sastra juga ditentukan oleh masyarakatnya “.
Selanjutnya Sapardi Djoko Darmono (1978) mengatakan :

“Bahwa cipta sastra di samping memiliki sifat khas sebagai suatu kreasi estetis, cipta sastra juga merupakan produk dunia sosial ”.
Objek yang digarap sosiologi dan sastra sama maka wajarlah kalau ada ahli yang meramalkan bahwa pada akhirnya nanti sosiologi dapat menggantikan kedudukan novel. Mungkin pendapat itu muncul di dorong oleh pesatnya pertumbuhan dan perkembangan sosiologi dewasa ini di samping adanya anggapan bahwa novel akan atau telah tiada. Kedua-duanya memiliki kemungkinan yang sama untuk terus berkembang dan tidak mustahil juga kedudukannya dapat saling bekerja sama saling melengkapi.
Atar Semi (1989) mengatakan :
1.      Konteks sosial pengarang yakni menyangkut posisi sosial masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca, termasuk di dalamnya faktor – faktor sosial yang bisa mempengaruhi si pengarang sebagai isi karya sastranya.
2.      Sastra sebagai cermin masyarakat yang di telaah adalah sampai sejauh mana sastra di anggap sebagai pencerminan keadaan masyarakat.
3.      Fungsi sosial sastra dalam hal ini ditelaah sampai berapa jauh nilai sastra ber kaitan dengan nilai sosial dan sampai seberapa jauh nilai sastra di pengaruhi oleh nilai sosial dan sampai seberapa jauh pula sastra dapat berfungsi sebagai alat penghibur dan sekaligus sebagai pendidikan bagi masyarakat pembaca.
Demikian eratnya hubungan antara pengarang dan karyanya, serta hubungan pengarang dengan masyarakatnya. Hal ini merupakan tiga dimensi saling melengkapi. Memang dalam sejarah kesusastraan beberapa paham atau aliran yang menyangkut pembicaraan terhadapkarya sastra itu sendiri. Pada satu pihak para ahli melihat sastra itu sebagai totalitas semata dari kreasi seni biasa. Sastra hanya dapat dibicarakan dalam rangka huibungannya dengan struktur kebahasaan, seperti yang dianut strukturalisme. Tetapi kenyataan perkembangan zaman menuntut lebih banyak lagi terdapat fungsi kehadiran sastra ditengah-tengah kehidupan masyarakat.
Pada masa angkatan balai pustaka, kita masih menemukan ciri -ciri yang hanpir bersamaan dengan masa pujangga baru. Setelah angkatan ’45, bentuk-bentuk klise itu dirombak, khususnya penyair individualisme chairil Anwar. Sosiologi pada sisi lain sebagai ilmu yang berbicara tentang aspek-aspek kemasyarakatan selalu dapat dimanfaatkan untuk pembicaraan sebuah karya sastra, nilai-nilai sosiologis dalam sebuah karya sastra dapat diwujudkan untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam. Banyak hal yang menjadi fokus pengamatan seorang sastrawan, kehidupan pribadinya lingkungan serta harapan-harapannya menjadi hal yang menarik dalam penelitian sebuah karya sastra.
Kompleks permasalahan itu merupakan hadiah seorang pengarang yang dapat memperluas wawasan pemikiran anggota masyarakat. Dengan menggambarkan fenomena dari hasil pengamatan pengarang, masyarakat pembacanya memperoleh hal yang bermakna dalam hidupnya. Pengarang sendiri mendapat sumber inspirasi dari bercorak ragam tingkah laku manusia maupun masyarakatnya.
Kesemuanya itu terangkum dalam aspek yang membangun sebuah cipta sastra, salah satu aspek yang membangun seutuhan sebuah cerita adalah menyangkut perwatakan tokoh-tokonya. Tokoh yang berpikiran primitif, tidak mungkin akan bertindak sebagai manusia modren yang serba luwes.
4.      Sosiologi Sebagai Pendekatan Sastra

Pendekatan yang dilakukan terhadap karya sastra pada dasarnya ada dua, yaitu pendekatan instrinsik dan pendekatan ekstrinsik. Unsur-unsur instrinsik merupakan unsur -unsur dalam yang diangkat dari isi karya sastra, seperti tema, plot, atau alur, perwatakan, gaya bahasa dan penokohan. Sedangkan unsur ekstrinsik berupa pengaruh luar yang terdapat dalam karya sastra itu seperti sosiologi, filsafat, politik, antropologi dan lain-lain.
Analisis aspek ekstrinsik karya sastra ialah analisis karya sastra sendiri dari segi isinya, dan sepanjang mungkin melihat kaitannya dengan kenyataan-kenyataan di luar karya sastra itu sendiri. Dengan demikian akan jelas nanti, apabila karya sastra tersebut sepenuhnya atau sebagian, sama sekali tidak berdasarkan kenyataan sebenarnya atau sebaliknya. Untuk sampai kepada kesimpulan tersebut perlulah dikembangan suatu sistematika analisis dari aspek ekstrinsiknya, yaitu terlihat mula-mula faktor historisnya, disusul berturut-turut faktor sosiologis, psikologis dan seterusnya.
Sastra yang baik harus mempunyai objek yang luas mengenai kehidupan manusia yang disampaikan melalui bahasa. Dengan demikian, bahan hakiki dari sastra adalah suatu kehidupan masyarakat, termasuk interaksi sosialnya.
Jakob Sumardjo (1986) mengatakan :
“ seorang pengarang menulis karyanya karena ia mengemukakan obsesinya terhadap lingkungan hidupnya, ada unek-unek yang menggangu jiwanya dan itu harus dikatakannya. Karena keterampilannya menulis, maka cara yang paling baik untuk mengeluarkan secara tandas kegundahan jiwanya adalah dengan karya tulis. Ini bisa berupa essei, puisi, drama, atau novel. Kalau demikian sudah barang tentu pengarang sangat membutuhkan obsesinya ”.

Penulis menghubungkan kutipan diatas dengan teori konvergensi (menuju suatu titik petemuan) yang dikemukakan oleh William Setera, katanya baik pembawaan dan pengalaman maupun lingkungan mempunyai peranan penting dalam perkembangan individu. Perkembagan individu ini akan ditentukan pula oleh faktor endigen atau perkembangan yang ditimbanya melalui pengalaman,lingkungan dan pendidikan. Pengaruh lingkungan sosial ini lebih dalam mempengaruhi pemikiran dan perbuatan pengarang.
Wellek & Warren dalam Atar Semi, (1989) mengatakan :
“ pendekatan sosiologi atau pendekatan ekstrinsik biasanya mempermasalahkan sesuatu di seputar sastra dan masyarakat bersifat sempit dan eksternal. Yang dipersoalkan biasanya mengenai hubungan sastra dan situasi sosial tertentu, sistem ekonomi, sosial, adat istiadat dan politik “.

Dengan pendekatan sosiologis yang mungkin dapat menunjukkan sebab-sebab dan latar belakang kelahiran sebuah karya sastra, bahkan mungkin dapat membuat kritikus agar terhindar dari kekeliruan tentang hakekat karya sastra yang ditelaah, terutama dalam menentukan fungsi suatu karya sastra dan mengetahui beberapa aspek sosial lain yang harus diketahui sebelum penelaahan dilakukan. Kritik sosiologis berfaedah dalam mengembangkan pengetahuan kita dengan memberikan keterangan tentang karya sastra, misalnya mengapa beberapa kelemahan menjadi ciri khas dalam suatu priode tertentu, mengapa suatu kurun waktu tertentu memperlihatkan suasana yang memancing keharuan atau cenderung untuk membunuh para tokoh dalam cerita. Dengan bantuan sosiolgis sastra hal itu dapat diketahui dan dipahami secara lebih mendalam.
Suatu hal yang perlu dipahami dalam melakukan pendekatan sosiologis ini adalah : walaupun seorang pengarang melukiskan kondisi sosial yang berada dilingkungannya, namun ia belum tentu menyuarakan keamanan masyarakatnya. Dalam arti ia tidaklah mewakili atau menyalurkan keinginan-keinginan kelompok masyarakat tertentu yang pasti pengarang menyalurkan atau mewakili hati nuraninya sendiri, dan bila ia kebetulan mengucapkan sesuatu yang berkejolak dalam masyarakat hal itu merupakan suatu kebetulan belaka.
Para pengkritik sastra yang menilai hasil sastra dengan menggunakan pendekatan sosiologis tentu akan mempertimbangkan : apakah pengarang dapat mengungkapkan segi kemasyarakatan itu dilakukan dengan cara yang menarik, dalam arti dia mampu menarik hati para pembacanya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa pendekatan sosiologis mempunyai segi-segi yang bermanfaat dan berdaya guna yang tinggi bila para kritikus tidak melupakan dan memperhatikan segi-segi instrinsik yang membangun karya sastra, disamping memperhatikan faktor-faktor sosiologis serta menyadari bahwa karya sastra itu diciptakan oleh suatu kreatifitas dengan memanfaatkan faktor imajenasi pengarang.
5.      Teori yang digunakan
Teori merupakan hal yang sangat perlu dalam menganalisis suatu karya sastra yang diajukan sebagai objek penelitian, karena teori adalah landasan berpijak untuk melihat aspek-aspek atau unsur-unsur yang terdapat didalam karya sastra. Dalam menganalisis novel ini maka penulis menerapkan teori struktural yaitu berupa nilai-nilai sosilogis novel untuk mendapatkan nilai-nilai sosiologis yang optimal dari karya yang dianalisis.

Mengenai penjelasan tentang teori struktural karya sastra A.Teew (1991) mengatakan : teori struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetail dan semendalam mungkin keterkaitan semua teori aspek-aspek karya sastra yang bersamaan dan menghasilkan makna menyeluruh.

Dalam hal ini penulis menggunakan analisis sosiolgi sastra yang dikemukakan oleh pendapat ahli berikut :
Wellek &Warren dalam  Atar Semi, (1989) yaitu :

“ sosiologi sastra yakni mempermasalahkan suatu karya sastra yang menjadi pokok, tentang apa yang tersirat dalam karya sastra tersebut dan apa tujuan dan amanat yang hendak disampaikan dan dengan mempergunakan teori struktural maka dapat dirangkumkan tujuan dari penulis mengangkat cerita ini untuk dikembangkan, tujuannya yaitu mendapatkan nilai-nilai sosiologis yang ada “.


BAB III
METODE PENELITIAN
1.      Metode Penelitian
Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif yaitu penelitian yang berusaha untuk memberikan pemecahan masalah yang ada pada cerita berdasarkan data-data. Metode ini menyajikan dan menganalisis data yang diperoleh dari informasi.
Pada penelitian ini penulis mendeskripsikan struktur dan susunan sosiologis yang terkandung dalam novel “Memory in Sorongyang merupakan sebuah perjalanan hidup seorang reporter televisi ke sorong.
2.      Sumber Data
Adapun sumber data yaitu Novel Memory in Sorong karya Pudji Isdriani. K, yang diterbitkan PT. RajaGrafindo Persada tahun 2005 dengan 182 halaman.
3.      Teknik Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data yang dilakukan penulis dalam penelitian ini, adalah 

4.      Teknik Analisis Data
Metode yang digunakan dalam menganalisis data penelitian ini adalah metode deskriptif yang didasarkan pada unsur-unsur intrinsik. Dengan langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam menganalisis novel adalah :
1.      Menuliskan data yang diperoleh dari lapangan yaitu berupa sinopsis novel tersebut.
2.      Mendeskripsikan isi novel dalam hal ini unsur intrinsik sebagai tumpuan analisis dalam mengkaji nilai-nilai sosiologis dalam novel.
           
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
A.    SIMPULAN
1.      Teori-teori sosiologi sastra mempersoalkan kaitan antara karya sastra dan 'kenyataan'. Sebenarnya teori sosiologi sastra inilah yang paling tua usianya dalam sejarah kritik sastra.
2.      Sastra adalah ungkapan ekspresi pikiran dalam bahasa, yang dimaksud disini adalah pandangan, ide-ide, perasaan, pemikiran, buku yang memuat perasaan manusia yang mendalam dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan dan bentuk yang mempesona.
3.      Sastra yang baik harus mempunyai objek yang luas mengenai kehidupan manusia yang disampaikan melalui bahasa. Dengan demikian, bahan hakiki dari sastra adalah suatu kehidupan masyarakat, termasuk interaksi sosialnya.
B.     SARAN
Beberapa saran dapat dijadikan bahan pertimbangan sehubungan dengan hasil penelitian, yaitu sebagai berikut :
1.      Pembaca,Demi kecintaan kita terhadap karya sastra Indonesia dipandang perlu untuk lebih meningkatkan minat kita untuk mengkaji novel-novel yang ada
2.   Dinas Pendidikan Meningkatkan kepedulian terhadap mahasiswa yang mengadakan penelitian terkhusus Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komantarnya bossss