Rabu, 06 Juni 2012

Buku Semantik


A.    IDENTITAS BUKU
OBJEK STUDI SEMANTIK
1.      Judul Buku                : Pengantar Semantik Bahasa Indonesia
2.      Nama Pengarang      : Drs. Abdul Chaer
3.      Penerbit                      : Rineka Cipta, Jakarta
4.      Cetakan                      : Kedua, Januari 1995
5.      ISBN                           : 979 – 516 – 150 – 5
6.      Tebal Buku                : 182 Halaman
7.      Jenis Kertas               : HVS Warna Putih (35 g/m2)
8.      Ukuran Kertas          : panjang 21 cm X 15,5 cm
9.      Kertas Sampul           : Contruck Kuning Merah
10.  Jenis Huruf                : Sampul, Calibri

B.     TUJUAN PENGARANG
1.      Penulis mengajak pembaca untuk lebih memperhatikan objek studi tentang
makna, yang dianggap sangat sukar ditelusuri dan dianalisa strukturnya.
2.      Menginformasikan kepada pembaca bahwa semantik sebagai komponen bahasa yang tidak dapat dilepaskan dalam pembicaraan linguistik, tanpa membicarakan makna pembahasan linguistik belum dianggap lengkap, bgai sayur tak bergaram.
3.      Menginformasikan kepada pembaca bahwa makna sebagai objek studi semantik memang sangat rumit persoalannya, bukan hanya menyangkut persoalan dalam  bahasa saja tetapi juga menyangngkut persoalan luar bahasa. Faktor-faktor luar bahasa seperti masalah agama, pendangan hidup, budaya, norma, dan tata nilai yang berlaku
dalam masyarakat turut meruwetkan persoalan semantik.
4.      Mengingatkan pembaca bahwa mempelajari Semantik itu penting karena semantik memiliki keterkaitan ilmu pengetahuan Sosiologi dan Anthropologi bahkan juga terkait dengan pengetahuan Filsafat dan Psikologi.

C.    TUJUAN PREVIEW
1.      Preview sengaja membahas mengenai Semantik karena objek studi ini masih kurang dipahami isi materinya dibanding ketika kita mempelajari morfologi, fonologi, sintaksis dan kosa kata.
2.      Mengulas kembali tentang Semantik bertujuan untuk mengingatkan para pembaca bahwa Semantik yang membahas mengenai makna tidak semudah apa yang kita
 bayangkan. Tetapi mempelajari Semantik banyak hal yang perlu kita ketahui seperti Jenis Semantik, Manfaat Semantik, Makna Semantik, Medan semantik, Istilah dalam semantik, dan masalah Semantik itu sendiri.
3.      Tujuan preview selanjutnya adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Linguistik sebagai salah satu persyaratan dalam mengikuti mata kuliah tersebut.
D.    INTISARI
Sebagai alat bahasa komunikasi verbal bahasa merupakan suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer. Maksudnya tidak ada hubungan wajib antara lambang sebagai hal yang menandai yang berwujud kata atau leksem dengan benda atau konsep yang ditandai. Kearbitreran lambang bahasa seperti di atas menyebabkan orang dalam sejarah linguistik, agak menelantarkan penelitian mengenai makna bila dibandingkan dengan penelitian di bidang morfologi dan sintaksi. Makna sebagai studi semantik sangat tidak jelas strukturnya berbeda dengan morfologi dan sisntaksis yang strukturnya jelas sehingga mudah dianalisis.
1.      Pengertian semantik
Kata semantik dalam bahasa Indonesia (Inggris: Semantics) berasal bahasa Yunani sema artinya ‘tanda’ atau lambang kata kerjanya adalah semaino yang berarti menandai atau melambangkan. Yang dimaksud dengan tanda atau lambang sebagai padanan kata sema itu adalah tanda linguistik seperti yang dikemukakan oleh Ferdinan de Seassure (1966) yaitu yang terdiri dari komponen yang menggantikan yang berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa dan komponen yang diartikan atau makna dari komponen yang pertama itu.
Kata semantik disepakati sebagai istilh yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya oleh karena itu kata semantik dapat diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu
dari tiga tataran analisis bahasa; fonologi, gramatika, dan semantik. Selain dari istilah semantik adapula yang digunakan istilah lain seperti semiotika, semiologi, semasiologi, semememik, dan semik untuk merujuk pada bidang studi yang mempelajari makna atau arti dari suatu arti atau lambang. Namun istilah semantik lebih umum digunakan dalam studi linguistik karena istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan objek yang lebih luas; yakni mencakup makna tanda atau lambang pada umumnya. Termasuk tanda-tanda-tanda lalulintas, kode morse, tanda-tanda dalam ilmu matematika.
Pemahaman mengenai unsur-unsur semantik dan jenis-jenis makna dalam studi semantik. Dalam buku ini terbagi atas tiga kegiatan belajar. Pertama, mempelajari dan memahami konsep unsur-unsur semantik, yang terdiri atas: (1) tanda dan lambang (simbol), (2) makna leksikal dan hubungan referensial, dan (3) mempelajari dan memahami mengenai konsep penamaan. Kedua, mempelajari dan memahami jenis-jenis makna dalam studi semantik, yang terbagi atas (1) makna sempit, (2) makna luas, (3) makna kognitif, (4) makna konotatif dan emotif, (5) makna referensial, (6)  makna konstruksi,  (7) makna leksikal dan makna gramatikal, (8) makna idesional, (9) makna proposisi, (10) makna pusat, (11) makna piktorial, dan (12) makna idiomatik. Ketiga, mempelajari serta memahami konsep dasar mengenai aspek, kala, nomina temporal, dan modus, serta deiksis atau penunjukan dalam studi semantik.
Berlainan dengan tataran analisis bahasa lainnya, semantik merupakan cabang linguistik yang mempunyai hubungan erat dengan ilmu-ilmu sosial lain seperti sosiologi dan antropologi; bahkan juga dengan filsafat dan psikologi. Sosiologi mempunyai kepentingan dengan semantik karena sering dijumpai kenyataan bahwa penggunaan kata-kata tertentu untuk mengatakan sesuatu mekna dapat menandai identitas kelompok dalam masyarakat. Sedangkan antropologi berkepentingan dengan sematik, antara lain, karena analisis makna sebuah bahasa dapat menjanjikan klsifikasi praktis tentang kehidupan budaya pemakainya.
Dari berbagai sumber kita dapati berbagai istilah untuk menamakan jenis atau tipe makna. Pateda (1986), misalnya, secara alfabetis telah mendaftarkan adanya 25 jenis makna, yaitu makna efektif, makna denotatif, makna deskriptif, makna ekstensi, makna emotif, makna gereflekter, makna adesional, makna intensi, makna gramatikal, makna kiasan, makna koognitif, makna kolokasi, makna konotatif, makna konseptual, makna konstruksi, makna leksikal, makna luas, makna piktorial, makna proposisional, makna pusat, makna referensial, makna sempit, makna sitilistika, dan makna tematis. Ada istilah yang berbeda untuk maksud yang sama atau hampir sama, tetapi adapula istilah yang sama untuk maksud yang berbeda-beda. Sedangkan lech (1976) yang karyanya banyak dikutip orang dalam studi semantik menbedakan ada tujuh tipe makna, yaitu (1) makna konseptual, (2) makna konotatif, (3)
makna sitilistika, (4) makna efektif, (5) makna reflektif, (6) makna kolokatif, dan (7) makna tematik. Dengan catatan makna konotatif, stilistika, efektif, reflektif, dan kolokatif masuk dalam kelompok yang lebih besar yaitu makna asosiatif.
Sesungguhnya tipe atau makna itu dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria dan sudut pandang. Berdasarkan jenis semantiknya dapat dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal, berdasarkan ada tidknya referen pada sebuah kata kata/leksemdapat dibedakan adanya makna referensial dan nonreferensial, berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata/leksem dapat dibedakan adanya makna denotatif dan makna konotatif, berdasarkan ketepatan maknanya dikenal adanya makna kata dan makna istilah atau makna umum dan makna khusus. Lalu berdasarkan kreteria lain atau sudut pandang lain dapat disebutkan adanya makna asosiatif, kolokatif, reflektif, idiomatik, dan sebagainya. Berikut akan dibahas pengertian makna-makna tersebut satu persatu.
Dalam pengertiannya perbedaan antara makna referensial dan makna nonreferensial yaitu dilihat dari ada tidaknya referen (acuan) dari sebuah kata. Sedangkan mengenai ciri makna konstruksi yaitu adanya pemaknaan dalam konstruksi itu sendiri.
a.       Makna Referensial
 Makna Referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau memiliki referen (acuan), makna referensial dapat disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan. Dalam makna ini memiliki hubungan dengan konsep mengenai sesuatu yang telah disepakati bersama (oleh masyarakat bahasa), Seperti meja dan kursi adalah yang bermakna referensial karena keduanya mempunyai referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang disebut ”meja” dan ”kursi”.
Contoh lain yaitu: Orang itu menampar orang
                                                                                                                        Pada contoh diatas bahwa orang1 dibedakan maknanya dari orang2 karena orang sebagai pelaku (agentif) dan orang2 sebagai pengalam (yang mengalami makna yang diungkapkan verba), hal tersebut menunjukkan makna kategori yang berbeda, tetapi makna referensil mengacu kepada konsep yang sama (orang = manusia).
b.      Makna Nonreferensial
Makna nonreferensial adalah sebuah kata yang tidak mempunyai referen (acuan). Seperti kata preposisi dan konjungsi, juga kata tugas lainnya. Dalam hal ini kata preposisi dan konjungsi serta kata tugas lainnya hanya memiliki fungsi atau tugas tapi tidak memiliki makna.
Berkenaan dengan bahasan ini ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktis, yaitu kata yang acuannya tidak menetap pada satu maujud, melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud yang lain. Yang termasuk kata-kata deiktis yaitu: dia, saya, kamu, di sini,
di sana, di situ, sekarang, besok, nanti, ini, itu.  Contoh lain referen kata di sini dalam ketiga kalimat berikut
(a)    Tadi dia duduk di sini
(b)   ”Hujan terjadi hampir setiap hari di sini”, kata walikota Bogor.
(c)    Di sini, di Indonesia, hal seperti itu sering terjadi.
Pada kalimat (a) kata di sini menunjukan tempat tertentu yang sempit sekali. Mungkin bisa dimaksudkan sebuah bangku, atau hanya pada sepotong tempat dari sebuah bangku. Pada kalimat (b) di sini menunjuk pada sebuah tempat yang lebih luas yaitu kota Bogor. Sedangkan pada kalimat (c) di sini merujuk pada daerah yang meliputi seluruh wilayah Indonesia. Jadi dari ketiga macam contoh diatas referennya tidak sama oleh karena itu disebut makna nonreferensial.
c.       Makna Konstruksi
Kontruksi berarti susunan dan hubungan kata dalam kalimat atau kelompok kata. Makna suatu kata ditentukan oleh kostruksi dalam kalimat atau kelompok kata (Alwi Hasan 2007:590). Makna konstruksi itu terdapat di dalam konstruksinya, misalnya, makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia. Di samping itu, makna milik dapat diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukan kepunyaan seperti pada contoh berikut:
-  Itu istri saya
- Wanita itu istri saya
-  Istananya jauh dari sini
- Di mana rumahmu ? dst.
Dengan demikian makna konstruksi akan timbul bila telah tersusun dengan kata atau morfem lain.                       
d.      Jenis Makna
Jenis makna dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria dan sudut pandang. Berdasarkan jenis semantiknya dapat dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal. Berdasarkan ada tidaknya referen pada sebuah kata dapat dibedakan adanya makna referensial dan nonreferensial. Berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata dapat dibedakan adanya makna konotatif dan denotatif. Berdasarkan ketepatan maknanya dapat dibedakan adanya makna istilah atau makna umum dan makna khusus. Selain pembagian tersebut, jenis makna dapat pula digolongkan ke dalam dua jenis, yaitu (a) makna leksikal dan (b) makna kontekstual.
(1)   Makna Leksikal
Makna leksikal (leksical me3aning, sematic meaning, external meaning) adalah makna kata yang berdiri sendiri baik dalam bentuk dasar maupun dalambentuk kompleks (turunan) dan makna yang ada tetap seperti apa yang dapat kita lihat dalam kamus. Makna leksikal dapat digolongkan
menjadi dua jenis, yaitu (a) makna konseptual yang meliputi makna konotatif, makna afektif, makna stilistik, makna kolokatif dan makna idiomatik.
(2)   Makna Konseptual
Makna konseptual yaitu makna yang sesuai dengan konsepnya makna yang sesuai dengan referennya, dan makna yang bebas asosiasi atau hubungan apa pun. Makna konseptual disebut juga makna denotatif, makna referensial, makna kognitif, atau makna deskriptif. Makna konseptual dianggap sebagai faktor utama dalam setiap komunikasi.
(3)   Makna Generik
Makna generik adalah makna konseptual yang luas, umum, yang mencakup beberapa makna konseptual yang khusus atau sempit.  Misalnya, sekolah dalam kalimat “Sekolah kami menang.” Bukan saja mencakup gedungnya, melainkan guru-guru, siswa-siswa dan pegawai tata usaha sekolah bersangkutan.
(4)   Makna Spesifik
Makna spesifik adalah makna konseptual, khas, dan sempit.  Misalnya jika berkata “ahli bahasa”, maka yang dimaksud bukan semua ahli, melainkan seseorang yang mengahlikan dirinya dalam bidang bahasa.
(5)   Makna Asosiatif
Makna asosiatif disebut juga makna kiasan atau pemakaian kata yang tidak sebenarnya. Makna asosiatif adalah makna yang dimilki sebuah kata berkenaan dengan adanya hubungan kata dengan keadaan di luar bahasa. Misalnya kata bunglon berasosiasi dengan makna orang yang tidak berpendirian tetap.
(6)   Makna Konotatif
Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap kata yang diucapkan atau didengar. Makna konotatif adalah makna yang digunakan untuk mengacu bentuk atau makna lain yang terdapat di luar makna leksikalnya.
(7)   Makna Afektif
Makna afektif merupakan makna yang muncul akibat reaksi pendengar atau pembaca terhadap penggunaan bahasa. Oleh karena itu, makna afektif berhubungan dengan gaya bahasa.
(8)   Makna Stilistik
Makna stilistik berhubungan dengan pemakaian bahasa yang menimbulkan efek terutama kepada pembaca. Makna stilistik lebih
dirasakan di dalam sebuah karya sastra. Sebuah karya sastra akan mendapat tempat tersendiri bagi kita karena kata yang digunakan mengandung makna stalistika. Makna stalistika lebih banyak ditampilkan melalui gaya bahasa.
(9)   Makna Kolokatif
Makna kolokatif adalah makna yang berhubungan dengan penggunaa beberapa kata di dalam lingkungan yang sama. Misalnya kata ikan, gurami, sayur, tomat tentunya kata-kata tersebut akan muncul di lingkungan dapur. Ada tiga keterbatasan kata jika dihubungkan dengan makna kolokatif, yaitu (a) makna dibatasi oleh unsur yang membentuk kata atau hubungan kata, (b) makna dibatasi oleh tingkat kecocokan kata, (c) makna dibatasi oleh kecepatan.
(10)           Makna Idiomatik
Makna idiomatik adalah makna yang ada dalam idiom, makna yang menyimpang dari makna konseptual dan gramatikal unsur pembentuknya. Dalam bahasa Indonesia ada dua macam bentuk idiom yaitu (a) idiom penuh dan (b) idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satu makna. Idiom sebagian adalah idiom yang di dalamnya masih terdapat unsur yang masih memiliki makna leksikal.
(11)           Makna Kontekstual
Makna kontekstual muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dengan situasi. Makna kontekstual disebut juga makna struktural karena proses dan satuan gramatikal itu selalu berkenaan dengan struktur ketatabahasaan.
(12)           Makna Gramatikal
Makna grmatikal adalah makna yang muncul sebagai akibat digabungkannya sebuah kata dalam suatu kalimat. Makna gramatikal dapat pula timbul sebagai akibat dari proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi dan komposisi.
(13)           Makna Tematikal
Makna tematikal adalah makna yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis, baik melalui urutan kata-kata, fokus pembicaraan, maupun penekanan pembicaraan.
(14)           Realasi makna adalah hubungan antara makna yang satu dengan makna kata yang lain.  
(15)           Sinonimi adalah nama lain untuk benda atau hal yang sama. Sinonimi yaitu suatu istilah yang mengandung pengertian telaah, keadaan, nama lain.
Contoh: pintar, pandai, cerdik, cerdas, cakap, mati, meninggal, berpulang, mangkat wafat
Sinonimi tidak mutlak memiliki arti yang sama tetapi mendekati sama atau mirip. Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya sinonimi adalah penyerapan kata-kata asing, penyerapan kata-kata daerah, makna emotif dan evaluatif. Kata bersinonimi tidak dapat dipertukarkan tempatnya karena dipengaruhi oleh (a) faktor waktu, (b) faktor tempat atau daerah, (c) faktor sosial, (d) faktor kegiatan dan (e) faktor nuansa makna.
(16)           Homonimi adalah kata-kata yang sama bunyi dan bentuknya tetapi mengandung makna dan pengertian yang berbeda. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya homonimi adalah (a) kata-kata yang berhomonimi itu berasal dari bahasa atau dialek yang berlainan,              (b) kata-kata yang berhomonimi itu terjadi sebagaimana hasil proses morfologis.
a.       Homonimi yang homograf dan homofon adalah sama bunyi sama bentuknya.
Contoh: bisa ® sanggup, dapat
                        bisa ® racun ular                                                             
 jagal ® pedagang kecil
                        jagal ® orang yang bertugas menyembelih binatang
                        padan ® banding
                        padan ® batas
                        padan ® janji
                        padan ® curang
                       padan ® layar
b.      Homonimi yang tidak homograf tetapi homofon adalah bentuknya tidak sama tetapi bunyinya sama.
Contoh: bang ® bentuk singkatan dari abang
                       bank ® lembaga yang mengurus uang
                       sangsi ® ragu
                        sanksi ® akibat
                        syarat ® janji                                                               
       sarat ® penuh dan berat
c.       Homonimi yang homograf tidak homofon sama bentuk tetapi tidak bunyinya.
Contoh: teras ® hati kayu atau bagian dalam kayu
                       teras ® pegawai utama
teras ® bidang tanah datar yang miring atau lebih tinggi dari yang lain
(17)           Antonimi adalah nama lain untuk benda lain pula atau kebalikannya.
a.        Oposisi kembar yaitu perlawanan kata yang merupakan pasangan atau kembaran yang mencakup dua anggota.
Contoh: laki-laki >< perempuan
kaya >< miskin
ayah >< ibu
b.      Oposisi gradual yaitu penyimpangan dari oposisi kembar antara dua istilah yang berlawanan masih terdapat sejumlah tingkatan antara.
Contoh: kaya dan miskin, besar dan kecil
Pada kata tersebut terdapat tingkatan (gradual) sangat kaya – cukup kaya – kaya – miskin – cukup miskin – sangat miskin, sangat besar – lebih besar – besar – kecil – lebih kecil – sangat kecil.
c.       Oposisi majemuk yaitu oposisi yang mencakup suatu perangkat yang terdiri dari dua kata. Satu kata berlawanan dengan dua kata atau lebih.
d.      Oposisi relasional yaitu oposisi antara dua kata yang mengandung relasi kebalikan, relasi pertentangan yang bersifat saling melengkapi.
Contoh: menjual beroposisi membeli
suami beroposisi istri
utara beroposisi selatan
e.       Oposisi hirarkis, oposisi ini terjadi karena setiap istilah menduduki derajat yang berlainan. Oposisi ini pada hakikatnya sama dengan oposisi majemuk. Kata-kata yang beroposisi hirarkis adalah kata-kata yang berupa nama satuan ukuran (berat, panjang, dan isi), satuan hitungan, nama jenjang kepangkatan dan sebagainya.
Contoh: meter beroposisi dengan kilometer
kuintal beroposisi dengan ton
f.       Oposisi inversi, oposisi ini terdapat pada pasangan kata seperti beberapa – semua, mungkin – wajib. Pengujian utama dalam menetapkan oposisi ini adalah apakah kata itu mengikuti kaidah sinonimi yang mencakup (a) penggantian suatu istilah dengan yang lain dan (b) mengubah posisi suatu penyangkalan dalam kaitan dengan istilah berlawanan.
Contoh: beberapa negara tidak mempunyai pantai = tidak semua negara mempunyai pantai.
(18)           Polisemi adalah relasi makna suatu kata yang memiliki makna lebih dari satu atau kata yang memiliki makna yang berbeda-beda tetapi masih dalam satu aluran arti.
Kata berhomonimi adalah kata-kata yang sama bunyi dan bentuknya.
Contoh: bisa ® dapat
bisa ® racun
Sedangkan polisemi adalah relasi makna suatu kata yang memiliki makna lebih dari satu atau kata yang memiliki makna berbeda-beda tetapi masih dalam satu arti.
Contoh: kepala           
            a. bagian tubuh dari leher ke atas
b. bagian dari suatu yang terletak di sebelah atas atau depan yang merupakan  hal  yang penting                                                             c. pemimpin atau ketua
(19)           Hiponimi
Dua cara untuk menentukan bahwa suatu kata tergolong polisemi atau homonimi, pertama melihat etimologi atau pertalian historisnya. Kata
buku misalnya, adalah homonimi yakni  buku yang merupakan kata asli bahasa Indonesia yang berarti ‘tulang sendi’ dan  buku yang berasal dari bahasa Belanda yang berarti ‘kitab, pustaka’. Kedua, dengan mengetahui prinsip perluasan makna dari suatu makna dasar.
a.       Hiponimi ialah semacam relasi antarkata yang berwujud atas bawah, atau dalam suatu makna terkandung sejumlah komponen yang lain.
b.      Hiponimi adalah semacam relasi antarkata yang berwujud atas bawah, atau dalam suatu makna terkandung sejumlah komponen yang lain. Kelas atas mencakup sejumlah komponen yang lebih kecil, sedangkan kelas bawah merupakan komponen yang mencakup dalam kelas atas. Contoh: Januari, Februari, Maret, April hiponimi dari kata bulan. Kelas atas disebut hipernim, contohnya, ikan hipernimnya tongkol, gabus, lele, teri.
2.      Kategori Makna leksikal
Dalam studi gramatika kategori kata merupakan hal yang tidak  pernah lepas dari pembicaraan. Boleh di bilang hampir tidak ada buku tata bahasa, baik yang tradisional maupun yang bukan, yang tidak membicarakan masalah kategori itu. Begitu penting, ruwet, dan kompleksnya persoalan kategori ini, sehingga tidak selesai- selesainya dibicarakan orang dan tidak

pernah ada kesepakatan di antara para ahli tersebut (Lihat misalnya Harimurti 1986 dan Ramlan 1985).
 Namun, seara umum kategori gramatikal yang banyak di ikuti, membagi kata menjadi dua kelompok besar, yaitu (1) kelompok yang disebut kata penuh (full word) dan (2) kelompok yang disebut partikel atau kata tugas (fungtion word). Ke dalam kelompok pertama termasuk kata dari kelas verbal, nominal, ajektival, dan adverbial; dan kedalam kelompok kedua termasuk kata-kata yang di sebut preposisi, kongjungsi, dan interjeksi. Tetapi perlu dicatat bahwa dalam bahasa indonesia ada sejumlah morfem dasar yang belum berkategori baik gramatikal maupun sementikal, misalnya morfem acu, juang, henti, kibar, kitar, dan remang (lebih jauh lihat Harimuti 1986).
            Secara gramatikal morfem-morfem tersebut tidak dapat muncul dalam satuan-satuan sintaksis tanpa bergabung dulu dengan morfem-morfem tertentu, baik afiks maupun morfem dasar lainnya. Secara semantik morfem-morfem itupun dianggap tidak bermakna, sehingga dalam kamus poerwadarminta (1982) maupun kamus besar
bahasa Indonesia (1988) morfem-morfem tersebut memang didaftar sebagai lema (entri) tetapi tidak diberi makna. Yang diberi makna adalah bentuk derivasinya.
Dalam pembicaraan berikut akan dicoba mendeskripsikan leksikon bahasa indonesia berdasarkan kategori semantiknya dengan menyebutkan ciri-ciri mana (komponen makna) yang menonjol dari setiap kelompok leksem, tetapi dengan tetap berpumpun pada kategori gramatiknya.
1.      Kategori Nomina
       Kata-kata  atau leksem-leksem noinal dalam bahasa indonesia secara semantiik mengandung ciri makna [+Benda (B)]; ddan oleh karena itu leksem-leksem nominal ini secara struktual akan selalu dapat didahului oleh preposisi di atau pada.
2.      Kategori Verbal
      Leksem-leksem verbal dalam bahasa indonesia secara semantik dapat ditandai dengan mengajukan tiga macam pertanyaan terhadap subjek tempat “verba” menjadi predikat klausanya. Ketiga pertanyaan itu adalah (1) apa yang dilakukan subjek dalam klausa tersebut,(2) apa yang terjadi terhadap subjek dalam klausa tersebut, dan(3) bagaimana keadaan subjek dalam klusa tersebut. Perhatikan ketiga kalimat berikut.
     - Dika menendang bola
     - Gunung itu longsor
     - Nita letih
3. Kategori ajektival
       Leksem-leksem ajektival dalam bahasa indonesia secara semantik adalah leksem yang menerangkan keadaan suatu nomina atau menyifati nomina itu. Secara sitantik adalah leksem yang dapat diawalikata ingkar  tidak, dapat diawali kata pembanding paling, dan dapat direduplikasikan serta diberi imbuhan se-nya (lihat Ramlan 1985, Harimurti 1986, dan maeliono 1988). Jadi, leksem-leksem seperti baik, tua, dan lebar adalah termasuk ajektival karena dapat memenuhi ketiga kriteria diatas.
4. Kategori pendamping
Yang dimaksud dengan kategori pendamping adalah leksem-leksem tertentu yang mendampingi nomina, verba, ajektif, dan juga klausa untuk memberikan keterangan tertentu yang bukan menyatakan keadaan atau sifat.
a.        Pendamping Nomina
Yang dimaksud dengan kategori pendamping adalah leksem-leksem pendamping nomina, antaralain menyatakan :
1.                  pengingkaran. Leksem ini hanya satu yaitu kata bukan yang i tempatkan di muka nomina tersebut misalnya bukan buku, bukan ayam, bukan guru, bukan mereka, dan bukan agama.
2.                  kuantitas atau jumlah. Jumlah leksem untuk menyatakan kuantitas agak banyak antara lain:
-          beberapa, untuk menyatakan jumlah yang tidak banyak seperti beberapa  orang,  beberapa rumah, dan beberapa perahu. Di antara beberapa dan  nominanya lasim juga ditempatkan kata penggolong seperti buah, butir, ekor, dan lembar.
-          semua, untuk menyatakan jumlah keseluruhan tanpa kecuali, seperti semua orang, semua kendaraan, dan semua murid.
-          seluruh, untuk menyatakan satu kesatuan, seperti seluruh Indonesia, seluruh dunia, seluruh kampung, dan seluruh badannya.
-          sejumlah untuk menyatakan jumlah yang tidak tentu, seperti sejumlah orang, sejumlah anggota perlemen, dan sejumlah penduduk. banyak, untuk menyatakan jumlah yang tidak sedikit, seperti banyak murid (yang tidak masuk sekolah).
3.      Pembatasan.  Leksem adanya hanya dan saja. Leksem hanya di tempatkan di muka nominanya. Sedangkan leksem saja di balakang nomina. Misalnya hanyaair putih, hanya dia, hanya sopir, kopi saja, siapa saja, dan mereka saja.
4.      Tempat berada. Leksem yang digunakan adalah di dan pada. Misalnya di kelas, di pasar, di Bogor, pada dinding, pada ayah, dan pada tahun. Pipertukarkan pada pendamping di dan pada seringkali secara bebas dapat dipertukarkan seperti di tahun atau pada tahun, di ayah atau  pada ayah, tetapi di Bogor tidak dapat menjadi pada Bogor. Perbedaannya adalah di menyatakan lokasi yang sebenarnya sedangkan pada utnuk lokasi yang tidak sebenarnya. Bogor adalah lokasi yang sebenarnya. Jadi,  dapat dengan pendamping di tetapi tidak dapat dengan pendamping pada. Sebaliknya agama tidak dapat di agama tetapi dapat pada agama.
5.      Tempat asal. Leksem yang digunakan adalah dari. Misalnyaa dari Jepang, dari rumah dan dari pasar. Selain menyatakan asal tempat pendamping dari dapat juga menyatakan bahan seperti dari gula, dari semen, dan dari tanah liat, juga dapat menyatakan asal waktu seperti dari pagi, dari kemarin, dan dari hari senin.
6.      Tempat tujuan atau dari arah sasaran. Leksem yang digunakan adalah ke dan kepada. Misalnya ke pasar, ke Bogor, ke sekolah, kepada ayah, kepada polisi, kepada agama.
7.      hal ata perkara. Leksem yang digunakan adalah tentang, mengenai, perihal, dan masalah. Pendamping ini lazim digunakan di depan nomima yang berada dalam suatu klausa intransitif. Misalnya;
-berdiskusi mengenai nilai-nilai sastra
- berbicara tentang kenakalan remaja
-berdebat mengenai Pancasila
8.      Alat. Leksem yang digunakan adalah kata dengan. Misalnya (menulis) dengan pensil, (memotong) dengan pisau, dan (mengikat) dengan tali.
9.      pelaku. Leksem yng digunakan adalah kata olehyang di tempatkan di muka nomina. Misalnya oleh pemerintah, oleh anak buahnya, dan oleh ayahnya.
10.  batas tempat dan batas waktu. Leksem yang digunakan adalah kata sampai dan hingga yang di tempatkan di muka nomina tempat atau nomina waktu. Misalnya sampai Jakarta, sampai pasar, sampai pagi, sampai pukul 2, hingga sore, hingga larut malam, dan hingga tengah hari
                        b.  Pendamping Verba
                        (1) pengingkaran
Leksem bukan hanya digunakan di muka verbal dalam suatu klausa yang dikontraskan dengan klausa lainnya.                                          
 Contoh:                                                                                      
  - dia bukan menangis karena sedih melainkan karena gembira.        
 - kami bukan membantah perintah Bapak, hanya meminta waktu  untuk mengerjakannya.
Leksem bukan dapat juga sekaligus digunakan bersama dengan   leksem tidak.
                        Contoh:
                                                                          i.      Saya bukan tidak dapat mengerjakannya, tetapi tidak ada waktu untuk melakukannya.
(2)  berbagai aspek. Antara lain aspek selesai(perfektif)
Contoh:
                                                                        ii.      Mereka sudah makan
                                                                      iii.      Kami telah mendengarkannya
                                                                      iv.      Ibu pernah makan daging rusa
                                                                        v.      Dia masih duduk di SD
                                                                      vi.      Adik mulai menangis
(3) berbagai modalitas.                                                                        
 Contoh pemakaian:
                                                                    vii.      Mereka belum datang
                                                                  viii.      Beliau sedang mandi
                                                                      ix.      Kami akan hadir
                                                                        x.      Anda boleh menunggu di sini
                                                                      xi.      Kamu dapat bertanya di sana
                                                                    xii.      Kalian harus hadir sebelum pukul tujuh pagi
                                                                  xiii.      Kita harus membantu mereka
                                                                  xiv.      Kamu mesti menuruti perintahnya
                                                                    xv.      Kalian jagan duduk di sini
(4) kuantitas.
Contoh pemakaian:
                                                                  xvi.      Dia sering bolos
                                                                xvii.      Kami seringkali melihat dia di sini
                                                              xviii.      Dia acapkali tidak hadir
                                                                  xix.      Adik jarang menangis
                                                                    xx.      Saya banyak membaca bukunya
                                                                  xxi.      Kamu kurang memperhatikan kesehatanmu
                                                                xxii.      Dia selalu membayar tepat pada waktunya
(5) kualitas.
Contoh pemakaian:
                                                              xxiii.      Beliau sangat menyayangi anak-anak itu
                                                              xxiv.      Dia paling benci kepada saya
                                                                xxv.      Tingkahlaku mereka agak meresahkan hati
                                                              xxvi.      Perkataannya cukup menggembirakan hatiku
                                                            xxvii.      Kejadian itu menyedihkan sekali
(6) pembatasan. Leksem yang digunakan adalah kata saja dan hanya. Leksem saja diletakkan di belakang verbal, sedangkan hanya di muka verba. Misalnya menangis saja, tidur saja, melihat Saja, hanya mendium, hanya mencubit, dan hanya tertawa.
                         c. Pendamping ajektiva
Leksem pendamping adjektiva, antara lain menyatakan :
(1) pengingkaran. Misalnya tidak baik, tidak lulus, tidak gemuk, tidak bandel, dan tidak marah.
(2) kualitas. Leksem yang digunaka adalah kata-kata sangat, agak, cukup, paling, sekali, maha, dan serba. Masalnya, sangat baik, agak datar, cukup licin, paling miskin, pandai sekali, maha mulia, dan serba modern.
                         d. Pendamping klausa
Leksem-leksem pendamping klausa ini, antara lain, memberi makna ;
(1)   kepastian. Leksem yang digunakan adalah pasti, tentu, dan memang, misalnya:
            -  Pasti dia hadir
            -  Dia pasti hadir
            -  Dia hadir pasti
            -  Saya tentu akan melunasi utang-utang itu
            -  Tentu utang-utang itu akan saya lunasi
            -  Memang, dia belum makan dari pagi
            -  Dia memang belum makan tadi pagi
(2)   keraguan. Leksem yang digunakan adalah kata barangkali, mungkin, dan boleh jadi. Misalnya:
-  Barangkali dia sakit
-  Kami mungkin akan datang
-  Boleh jadi dia sudah berangkat
(3) harapan. Leksem yang dugunakana adalah kata-kata moga-moga, semoga, mudah-mudahan, hendaknya, sebabnya, dan seharusnya. Misalnya:
-  Moga-moga mereka tiba di sini
-  Semoga anda lekas sembuh
-  Mudah-mudahan usulmu diterima
-  Kalian hendaknya mematuhi atran lalu lintas
-  Sebaiknya dia diberitahu sekarang juga
-  Kamu seharusnya tdak berkata begitu
          5. kategori Penghubung
Yang dimaksud dengan kategori penghubung adalah leksem tertntu yang bertugas menghubungkan, baik kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa, maupun kalimat dengn kalimat secara koordinatif maupun secara subordinatif.
           (1) Penghubung Koordinatif
           (2) Penghubung Subordinatif
SUDUT PANDANG             JENIS MAKNA
           a. jenis semantik          
           b. makna leksikal dan gramatikal
11.  referen makna referensial dan nonreferensial
12.  nilai rasa makna konotatif dan denotatif
13.  ketepatan makna kata dan istilah
Makna Khusus dan Umum 
         Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem  bersifat kata. Karena itu dapat pula dikatakan makna leksikal adalah makna yang sesuai referennya, makna sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam hidup kita. Makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.
         Referens  adalah sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh suatu kata. Bila suatu kata mempunyai referen, maka kata tersebut dikatakan bermakna referensial. Sebaliknya, jika suatu kata tidak mempunyai referen maka kata tersebut bermakna nonreferensial.
         Sebuah kata disebut bermakna konotatif apabila kata itu mempunyai nilai rasa positif maupun negatif. Jika tidak memiliki nilai rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi atau disebut netral.
        Makna denotatif sebenarnya sama dengan makna referensial. Makna ini biasanya diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi (penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan) atau pengalaman lainnya. Pada dua kata yang bermakna denotasi sama dapat melekat nilai rasa yang berbeda sehingga memunculkan makna konotasi.
        Jika suatu kata digunakan secara umum maka yang muncul adalah makna kata yang bersifat umum, sedangkan jika kata-kata tersebut digunakan sebagai istilah dalam suatu bidang maka akan muncul makna istilah yang bersifat khusus. Istilah memiliki makna tetap dan pasti karena istilah hanya digunakan dalam bidang ilmu tertentu.
Relasi Makna dan Perubahan Makna
        Relasi makna atau hubungan makna adalah hubungan kemaknaan antara sebuah kata atau satuan bahasa (frase, klausa, kalimat) dengan kata atau satuan bahasa lainnya. Hubungan ini dapat berupa kesamaan makna (sinonimi), kebalikan makna (antonimi), kegandaan makna (polisemi), kelainan makna (homonimi), ketercakupan makna (hiponimi), dan ambiguitas.
        Secara harafiah, kata sinonimi berarti nama lain untuk benda atau hal yang sama. Sedangkan Verharr secara semantik mendefinisikan sinonimi sebagai ungkapan (dapat berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain (Verhaar, 1981).
        Sinonimi dapat dibedakan atas beberapa jenis, tergantung dari sudut pandang yang digunakan. Yang harus diingat dalam sinonim adalah dua buah satuan bahasa (kata, frase atau kalimat) sebenarnya tidak memiliki makna yang persis sama. Menurut Verhaar yang sama adalah informasinya. Hal ini sesuai dengan prinsip semantik yang mengatakan bahwa apabila bentuk berbeda maka makna pun akan berbeda, walaupun perbedaannya hanya sedikit. Selain itu, dalam bahasa Indonesia, kata-kata yang bersinonim belum tentu dapat dipertukarkan begitu saja 
         Antonimi berasal dari bahasa Yunani Kuno yang terdiri dari kata onoma yang berarti nama, dan anti yang berarti melawan. Arti harfiahnya adalah nama lain untuk benda lain pula. Menurut Verhaar antonim ialah ungkapan
(biasanya kata, frase atau kalimat) yang dianggap bermakna kebalikan dari ungkapan lain.
        Polisemi adalah satuan bahasa yang memiliki makna lebih dari satu. Namun sebenarnya makna tersebut masih berhubungan. Polisemi kadangkala disamakan saja dengan homonimi, padahal keduanya berbeda. Homonimi berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu onoma yang berarti nama dan homos yang berarti sama. Jadi, secara harafiah homonimi dapat diartikan sebagai ‘nama sama untuk benda lain’. Secara semantis, Verhaar mendefinisikan homonimi sebagai ungkapan (kata, frase, atau kalimat) yang bentuknya sama dengan ungkapan lain tetapi berbeda makna.
        Kata-kata yang berhomonim dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu: Homonim yang:
(a) homograf,
(b) homofon, dan
(c) homograf dan homofon.
       Kata hiponimi berasal dari Yunani Kuno yang terdiri dari kata onoma ‘nama’ dan hypo’di bawah’. Secara harfiah hiponimi berarti ‘nama yang termasuk di bawah nama lain (Verhaar, 1993). Secara semantis, hiponimi dapat didefinisikan sebagai ungkapan (kata, frase, ata kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna ungkapan lain.
         Istilah ambiguitas berasal dari bahasa Inggris (ambiguity) yang menurut Kridalaksana berarti suatu konstruksi yang dapat ditafsirkan lebih dari satu
arti (Kridalaksana, 1982). Ambiguitas dapat terjadi pada komunikasi lisan maupun tulisan. Namun, biasanya terjadi pada komunikasi tulisan. Dalam komunikasi lisan, ambiguitas dapat dihindari dengan penggunaan intonasi yang tepat. Ambiguitas pada komunikasi tulisan dapat dihindari dengan penggunaan tanda baca yang tepat. Makna-makna dalam bahasa Indonesia dapat mengalami perubahan makna, seperti perluasan makna, penyempitan makna, penghalusan makna, dan pengasaran makna.
E. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU
            Kelebihan buku ini dapat digunakan diberbagai kalangan tingkat pendidkan. Dari tingkat SMP, SMA, sampai ke Perguruan Tinggi, dapat mempergunakan buku ini untuk dijadikan sebagai acuan. Isinya yang lengkap membahas tentang makna kata dapat memperluas wawasan tentang objek studi Semantik.
Kekurangan yang terdapat pada buku ini yaitu kurang memberikan contoh kalimat  yang terdapat pada setiap jenis makna. Selain itu kertas dan cetakan tulisannya terlihat buram sehingga kurang diminati untuk dibaca.
F.     PENDAPAT PREVIEW
Buku-buku yang membahas materi pengetahuan secara umum seperti pada buku yang berjudul Semantik ini, penulis harus lebih terinci memberikan contoh-contoh kalimatnya terutama dalam menguraikan jenis-jenis dan kategori pemaknaan kata. Membahas makna kata dalam semantik, konsep pengetahuannya tidak merujuk satu makna kata, melainkan merujuk pada beberapa jenis dan kategori makna. Oleh karena itu, membahas makna kata membutuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang lingkup Semantik dan batasannya sehingga pembaca tidak bingung membedakan antara Semantik dan Pragmatik. Mengapa demikian?. Karena semantik menyinggung beberapa makna seperti yang telah disinggung pada kesimpulan isi buku ini. Untuk tidak bingung membedakan Semantik dan Pragmatik pelajarilah buku ini yang amat bermanfaat dalam pembelajaran dan pengajaran Bahasa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komantarnya bossss